Sabtu, 21 Mei 2016

laporan produksi ternak potong

            
                                                BAB I
                               PENDAHULUAN
                                   
1.1 LATAR BELAKANG

Pada ternak ruminansia khususnya sapi secara genetik mampu menghasilkan susu, dan hasil produksi yang paling penting adalah dagingnya. Ternak ruminansia potong besar yang sering dikembangkan yaitu sapi, karena selain terbilang mudah diternakan dan memiliki laju pertambahan bobot badan yang cukup cepat bila dipelihara dengan sistem yang baik. Selain itu daging yang dihasilkan pada umumnya lebih diminati oleh masyrakat dibandingkan dengan daging ruminasia yang lain.
            Untuk memperoleh sapi yang mempunyai nilai produksi yang tinggi, kebutuhan akan pakannya sangat penting diperhatikan. Pemberian pakan secara teratur dan pemberian pakan tambahan atau suplemen sangat baik jika dilakukan pada sapi terutama sapi pedaging, guna mendapatkan hasil produksi daging yang tinggi.
Hijauan Makanan Ternak (HMT) merupakan salah satu bahan makanan ternak yang sangat diperlukan dan besar manfaatnya bagi kehidupan dan kelangsungan populasi ternak ruminansia. Oleh karenanya, hijauan makanan ternak sebagai salah satu bahan makanan merupakan dasar utama untuk mendukung suatu peternakan.
Kebutuhan akan hijauan pakan akan semakin banyak sesuai dengan bertambahnya jumlah populasi ternak sapi yang dimiliki. Kendala utama di dalam penyediaan hijauan pakan untuk ternak sapi, terutama produksinya tidak dapat tetap sepanjang tahun. Pada saat musim penghujan, produksi hijauan makanan ternak akan melimpah, sebaliknya pada saat musim kemarau tingkat produksinya akan rendah atau bahkan dapat berkurang sama sekali.
Pemberian pakan hijauan yang diberikan setiap hari dan sebagai pakan tambahan dapat diberikan kosentrat, pakan dalam bentuk permen atau blok yang dibuat dari beberapa jenis bahan pakan yang bertujuan meningkatakan bobot badan sapi. Sebagai mana definisi dari pakan suplemen adalah bahan pakan pelengkap dari pakan utama berupa hijauan yang memenuhi unsur-unsur mikro berupa mineral, vitamin dan Asam Amino serta dengan penambahan ampas tahu dalam pembuatan pakan suplemen tersebut.
Pada sapi potong sebagai penghasil daging dan merupakan salah satu sumber protein hewani yang merupakan bahan pangan bagi masyarakat, oleh karena itu untuk mengimbangi permintaan daging asal sapi potong oleh masyarakat sebagai bahan pangan, maka daging asal sapi potong ini selalu tersedia setiap waktu. Ketersediaan daging asal sapi potong ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produksi daging sapi potong.
            Namun pemeliharaan sapi potong di Indonesia dilakukan ada yang secara ekstensif, semi intensif, dan intensif. Pada umumnya sapi-sapi yang dipelihara secara intensif hampir sepanjang hari berada dalam kandang dan diberikan pakan sebanyak dan sebaik mungkin sehingga cepat gemuk, sedangkan cara ekstensif sapi-sapi tersebut dilepas dipadang pengembalaan dan digembalakan sepanjang hari. Selain itu juga bibit (genetic) sapi potong yang dipelihara menjadi suatu pertimbangan agar sesuai dengan kondisi lingkungan tempat sapi potong itu dikembangkan.
            Selain dari bibit yang digunakan juga factor penentu dalam keberhasilan usaha sapi potong itu adalah bahan pakan yang digunakan. Hijauan merupakan bahan pokok bagi sapi potong yang merupakan ternak ruminansia, namun kandungan gizi yang terdapat pada hijauan belum mampu memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh sapi potong baik untuk hidup pokok maupun untuk produksi, oleh karena itu sangat diperlukan pakan tambahan seperti konsentrat.Disamping itu juga sangat dibutuhkan bioteknologi terhadap bahan pakan sapi potong dalam upaya meningkatkan kecernaan, khususnya bahan pakan berasal dari limbah industry dan limbah pertanian dan perkebunan.
            Apabila bibit dan bahan pakan yang diberikan pada sapi potong sudah diperhatikan, maka produksi sapi potong akan meningkat. Untuk melihat peningkatan dari produksi sapi potong khususnya produksi daging ini dapat dilihat dari bobot daging karkas ini bahkan dari irisan komersial pada karkas sapi potong.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tujuan praktikum produksi ternak potong ini adalah untuk melihat bagaimana usaha peternakan rakyat yang ada di sekitar Provinsi Jambi, mulai dari sejarah berdiri, manajemen pemeliharaan, dan bagaimana pengembangan serta bagaimana perbandingan antara peternakan rakyat yang kami kunjungi di tempat yang berbeda. Selain itu, tujuan dari praktikum ini ialah agar mahasiswa mendapatkan pengalaman baru yang belum pernah diketahui tentang hal mendasar yang berkaitan dengan ternak potong yang ada dilapangan.
Manfaat dari praktikum Produksi Ternak potong ini mahasiswa dibekali dengan pengalaman dan pengetahuan yang praktis, tepat guna, efisien dan aplikatif sehingga pada akhirnya mahasiswa dapat mempraktekan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan dengan adanya hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat digunakan sebagi titik acuan dan bahan perbandingan didalam menjawab segala permasalahan yang berkaitan tentang ternak potong tersebut, dan juga sebagai masukan bagi kita semua di dalam mata kuliah Produksi Ternak Potong, dan menjadi syarat di dalam memenuhi tugas praktikum dan mata kuliah Produksi Ternak Potong. Tentunya banyak sekali hal bermanfaat yang dapat diperoleh selama melaksanakan praktikum ini.





BAB II
MATERI DAN METODA
2.1 Waktu dan Tempat
         Praktikum Produksi Ternak Potong ini dilaksanakan setiap hari minggu yakni pada tanggal 11 oktober sampai 25 oktober 2015 . Praktikum ini dilakukan RPH (Rumah Potong Hewan) milik Dinas Peternakan Provinsi Jamb, peternakan pembibitan di Pijoan, peternakan rakyat pak jumono, peternakan rakyat pak kisut, peternakan rakyat pak mistok, peternakan rakyat pak suhaimi.

2.2 Materi
            Pada praktikum ini, dilakukan pengamatan terhadap bangsa dan jenis ternak yang di kembangkan dan di pelihara, serta bagaimana manajemen pemeliharaannya dan bagaimana prosedur yang dilakukan dalam pemotongan hewan ternak hingga memperoleh karkas.

2.3 Metode
         Pada pratikum Produksi Ternak potong metode yang digunakan adalah melekukan wawancara kepada peternak, pengamatan terhadap ternak, menejemen perkandangan maupun menejemen penggunaan limbah dari peternakan itu sendiri, dan juga melihat proses pemotongan karkas.

.



  
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 RPH (Rumah Potong Hewan) milik Dinas Peternakan Provinsi Jambi
1.      Peraturan atau Undang-Undang Republik Indonesia nomor 18 Tahun 2009, Tentang Peternakan dan kesehatan hewan. Ketentuan pidana pasal 86.Setiap orang yang menyembeli.
a.       Ternak ruminansia kecil (kambing dan domba/biri-biri ) betina produktif dipidana hukuman paling sigkat 1(satu) bulan dan paling lama 6(enam) bulan dan atau denda paling sedikit 1.000.000.00 (satu juta rupiah) paling banyak 5.000.000.00 (lima juta rupiah).
b.      Ternak ruminansia besar (sapi , dan kerbau ) betina produktif sebagai dimaksud dalam pasal 1A Ayat (2) di pidana paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan, dan atau denda paling sedikit 5.000.000.00 (lima juta rupiah) dan paling banyak 25.000.000.00 (duapuluh lima juta rupiah).
Peraturan lain peternak di larang.
a.       Dilarang memberi minum dengan memasukkan selang kedalam mulut ternak (Gelonggong) Karena melanggar pasal 86/UU nomor 18/2009 tentang peraturan dan kesehatan hewan.
b.      Perlakuan terhadap hewan harus dihindari dari tindakan penganiayaan dan penyalahgunaan (Pasal 86/UU nomor 18/2009)
2. Kondisi RPH
            Dari hasil pengamatan kami di RPH dapat dijelaskan bahwa dilihat dari segi kebersihannya masih kurang bersih. Karena darah, feses dan proses pengulitan pemisahan karkas masih pada satu tempat yang sama, jadi karkas masih bercampur dengan darah ataupun kotoran lainnya.
            Pada saat pemisahan jeroan dan alat potonghanya dimasukkan dalam satu bak yang sama pada air yang tidak mengalir, jadi tercampur antara darah dan kotoran lainnya dalam satu bak tersebut. Sapi di RPH jambi masih di perlakukan kasar, alat untuk menimbang sapi yang masih hidup tidak ada.
3. Jumlah dan BangsaTernak yang di Sembelih
            Jumlah ternak yang dipotong ada 5 yaitu 4 ekor sapi dan 1 ekor kerbau, diantarannya yaitu:
1.      1(satu) ekor sapi Bali
Sapi bali yang berciri-ciri: Warna bulu merah bata, pada jantan akan menjad ihitam saat dewasa ; 2) Ada warna putih dengan batas yang jelas pada bagian belakang paha, pinggiran bibi ratas, kaki bawah mulai tarsus dan carpus ; 3) Mempunyai gumba yang bentuknya khas serta terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung 4) Sapi bali ini merupakan sapi lokal yang memiliki tipe pedaging karena persentase karkas dapat mencapai 56,9 %. 5) Baik sapi bali jantan maupun betina memiliki tanduk. memungkinkan oleh karena juga didukung oleh kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang sangat tinggi (Soesanto, 2007). (Hardjosubroto, 2004).  Dan (Bambang, 2001).

Gambar.1 Sapi Bali    
2.      1 ekor sapi PO ( Peranakan Ongole ),
Sapi PO di pasaran juga sering disebut sebagai Sapi Lokal atau Sapi Jawa atau Sapi Putih. Sapi PO ini hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina Jawa yang berwarna putih. Sapi Ongole (BosIndicus) sebenarnya berasal dari India yang berciri-ciri: Warna bulu sapi Ongole sendiri adalah putih abu-abu dengan warna hitam di sekeliling mata,  mempunyai gumba dan gelambir yang besar menggelantung, saat mencapai umur dewasa yang jantan mempunyai berat badan kurang dari 600 kg dan yang betina kurang dari 450 kg. Bobot hidup Sapi Peranakan Ongole (PO) bervariasi mulai 220 kg hingga mencapai sekitar 600 kg. Saat ini Sapi PO yang murni mulai sulit ditemukan, karena telah banyak disilangkan dengan sapi Brahman. Oleh karena itu sapi PO sering diartikan sebagai sapi local berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa dan gelambir.







            Gambar sapi Peranakan Ongele ( PO )
3.      1(satu) ekor sapi Brangus
Sapi brangus merupakan hasil persilangan sapi betina Brahman dan pejantan angus. Ciri khasnya adalah warna hitam dengan tanduk kecil. Sifat Brahman yang diwarisi brangus adalah dengan dan punuk, tahan udara panas, tahan gigitan  serangga dan mudah menyesuaikan diri dengan pakan yang mutunya kurang baik. Sedangkan sapi angus yang diturunkan produktivitas daging dan presentase karkasnya tinggi.
4. 1(ekor) ekor sapi Brahman
Sapi Brahman merupakan sapi yang berasal dari India, termasuk dalam Bos Indicus, yang kemudian diekspor keseluruh dunia. Jenis yang utama adalah Kankrej (Guzerat), Nelore, Gir, danOngole. Ciri-cirisapi Brahman mempunyai punuk besar dan gelambir yang memanjang berlipat-lipat dari kepala ke dada. Memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, daya tahan terhadap panas juga lebih baik dari sapi Eropa karena lebih banyak memiliki kelenjar keringat, kulit berminyak di seluruh tubuh yang membantu resistensi terhadap parasit.
Karakteristik sapi Brahman berukuran sedang dengan berat jantan dewasa 800-1000 kg, sedangkan betina 500-700 kg, berat pedet yang baru lahir antara 30-35 kg, dan dapat tumbuh cepat dengan berat sapih kompetitif dengan jenis sapi lainnya. Presentase karkas 48,6 – 54,2%, dan pertambahan berat harian 0,83 – 1,5 kg.
Sapi Brahman memiliki warna yang bervariasi, dari abu-abu muda, merah sampai hitam. Kebanyakan berwarna abu muda dan abu tua. Sapi jantan berwarna lebih tua dari sapi betina dan memiliki warna gelap di daerah leher, bahu, dan paha bagian bawah. Sapi Brahman daspar beradaptasi dengan baik terhadap panas, mereka dapat bertahan dari suhu 8 – 105 oF, tanpa gangguan selera makan dan produksi susu.







5. Dan 1 lagiadalahkerbau
Kerbau adalah binatang memamah biak yang menjadi ternak bagi banyak bangsa di dunia, terutama asia. Hewan ini adalah domestikasi dari kerbau liar yang masih ditemukan di daerah-daerah Pakistan, india, Bangladesh, Nepal, Bhutan, Vietnam, China, Filipina, Taiwan, Indonesia, dan Thailand.
Kerbau yang berada di rumah potong hewan (RPH) jambi adalah kerbau jenis murrah. Kerbau murrah terdapat di Indonesia yang dipelihara di sumatera. Bangsa kerbau murrah berasal dari india di Negara bagianuttar, Pradesh, Haryana, Punjab, dandelhi (Fahimuddin, 1975).
Karakteristik kerbau murrah adalah, tubuh padat dan pendek, leher dan kepala relative kecil, punggung lebar, tanduk melingkar seperti spiral dan kecil,dewasa 450 kg dan dewasa jantan 550 kg.

4. Proses Pemotongan
            Proses pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH) dimulai dari pengikatan sapi Brahman pada tiang pengikat dan mengikat kedua kaki belakang serta kaki depan sebelah kiri, kemudian merebahkannya menghadap kiblat dengan rusuk kiri menempel pada lantai. Lalu dilakukan pemotongan dengan memutuskan jalan makan, jalan nafas, dan urat nadinya hingga benar-benar putus. Setelah sapi dipotong biarkan sapi sampai benar-benar mati, dalam hal ini waktu matinya 9 menit 32 detik.
            Pada proses pengulitan dan pemisahan karkas diawali dengan menggantung kaki belakang menggunakan derek, barulah dilakukan pengulitan hingga pemisaahan karkas dan non-karkas. Bagian yang termasuk karkas adalah paha atas, bahu dan punuk, iga, daging has luar dan dalam, samcan, daging, tunjang, sengkel daging, betis, dan round sedangkan yang termasuk non-karkas adalah jeroan, kulit, tungkai kaki, dan kepala. Waktu yang dibutuhkan dalam proses pemotongan sampai selesai pemisahan karkas sekitar 25 menit.

3.2  Pengamatan Pembibitan Sapi Di Pijoan.
Pemuliaan adalah merupakan suatu usaha untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu genetik ternak melalui pengembanganbiakan ternak-temak yang memiliki potensi genetik yang baik sehingga diperoleh kinerja atau potensi produksi yang diharapkan.
Sedangkan arti pembibitan adalah suatu tindakan peternak untuk menghasilkan ternak bibit, dimana yang dimaksud dengan temak bibit adalah ternak yang memenuhi persyaratan dan karakter tertentu untuk dikembangbiakan dengan tujuan standar produksi /kinerja yang ditentukan.

3.2.2  Bangsa Sapi
Adapun bangsa sapi yang terdapat di pembibitan sapi di Pijoan yaitu sapi bali, simental dan simba persilangan antara simental dan bali. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).
Adapun ciri – ciri dari sapi bangsa bali ini meliputi :
v  Bulu berwaran dari merah bata, kuning kecoklatan, sampai cokelat kehitaman.
v  Pada bagian empat kaki mulai dari  tarsus – meta tarsus carpal-  meta carpal berwarna putih dan ini terlihat seperti sedang memakai kaos kaki.
v  Sapi jenis ini tidak memiliki glambir pada leher dan pundukan pada pundak.
v  Tanduk yang dimiliki masing – masing sapi ini juga bervariasi, ada yang menyerupai tanduk kerbau, atau ukurannya pendek akibat pemotongan tanduk yang dilakukan oleh peternak. Alasan dari peternak memelihara sapi bali yang merupakan sapi bangsa lokal ini karena mudah beradaptasi, bobot karkasnya yang juga cukup tinggi, dan produktivitasnya juga tinggi.
Adapun ciri-ciri dari sapi bangsa simental meliputi :

          



Sapi Simmental di kalangan peternak populer dengan nama Sapi Metal, dan sebagian peternak atau pedagang sapi kadang salah kaprah dengan menyebutnya sapi limousin, bahkan ada yang menyebut sapi Brahman. Sapi Simmental (juga termasuk Bos Taurus), berasal dari daerah Simme di negara Switzerland (Swiss), namun sekarang berkembang lebih cepat di benua Amerika, serta di Australia dan Selandia Baru (New Zealand). Sapi ini merupakan tipe sapi perah dan pedaging.
 

                                                                       



                                                            Gambar. Sapi Bali
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0dTYhk-vO0eOe9YaOdi5y2fz4988KG0n56iaqNbY-huzuXdwSK3tFHW8flgB7h683w0AUtgDl7A213wlkX4T1wL7xsBokcTbuKWN0Yv8XTudc1qocCwITEVPJmMkYbXM-uHqtwCQCRsE/s320/SAPI+SIMENTAL.jpg







           
Gambar. Sapi Simental
                        Gambar. Sapi Simba
3.2.3 Jenis Pakan
            Jenis pakan yang digunakan di Dinas Pembibitan sapi di pijoan yaitu hijauan dan konsetrat, adapun jenis hijauan yang digunakan yaitu rmput Lampung, rumput Gajah, rumput BD, rumput Mexico sedangkan untuk pakan konsentrat yaitu dedak halus, jagung halus, bungkil sawit, garam.  Menurut Zainal Abidin (2003)  bahwa Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas daging. Perlakuan pakan dengan NPB akan meningkatkan daya cerna pakan terutama terhadap pakan yang berkualitas rendah. Hal tersebut juga di tambahakan oleh Anonim (2012), yang menyatakan bahwa Pakan untuk ternak sapi potong dapat berupa Hijauan (rumput, kacang-kacangan dan limbah pertanian), konsentrat (dedak padi, onggok, ampas tahu) dan makanan tambahan (vitamin, mineral dan urea).
3.2.4 Ukuran Tubuh
            Perubahan ukuran tubuh ternak dapat dijadikan  sebagai indikator pertumbuhan ternak. Perubahan  pada ukuran tubuh ternak menunjukkan apakah ternak menga lami pertumbuhan atau tidak.
Mengukur Lingkar Dada
             Lingkar Dada (LD)  merupakan salah satu  dimensi tubuh yang dapat digunakan sebagai indikator  mengukur pertumbuhan dan perkembangan ternak. Pengukuran lingkar dada diukur pada tulang rusuk  paling depan persis pada belakang kaki depan.  Pengukuran lingkar dada dilakukan  dengan  melingkarkan pita ukur pada badan. Cara Mengukur  Lingkar Dada
Teknik pengukuran yang baik dapat dilakukan  dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Siapkan pita ukur dengan  panjang minimal 200  cm
2. Siapkan buku data untuk mencatat hasil pengukuran lingkar dada
3. Pengukuran lingkar dada dilakukan simultan setelah ternak ditimbang
4. Pastikan ternak sudah tenang dan berdiri dengan posisi yang tegak
5. Catat angka lingkar dada yang terukur pada pita  ukur kedalam buku data

Mengukur Tinggi Panggul
Tinggi panggul adalah jarak tegak lurus dari tanah sampai dengan puncak gumba atau di belakang punuk untuk sapi Hisar dan Ongole. Cara Mengukur Tinggi Panggul:
1.      Siapkan mistar ukur berbentuk L dan siapkan ternak yang akan diukur
2.      2.Siapkan buku untuk pengisian data
3.      Tempatkan ternak sapi pada posisi/tempat yang rata dan pastikan ternak berdiri tegak secara  alami.
4.      Ukurlah ternak dengan menempatkan mistar ukur tegak lurus dan pastikan bagian horizontal dari mistar persis berada di atas gumba.
5.      Catat hasil pengukuran pada buku data yang telah disiapkan
Cara Mengukur Tinggi Pinggul :
1.      Tempatkan ternak sapi pada posisi/tempat yang  rata dan pastikan ternak berdiri tegak secara alami.
2.       Ukurlah ternak dengan menempatkan mistar ukur tegak lurus dan pastikan bagian horizontal dari mistar persis berada di atas pinggul
3.       Catatan hasil pengukuran pada buku data yang  telah disiapkan
Mengukur  Panjang Badan
    Panjang badan adalah panjang dari titik bahu ke  tulang duduk (pin bone).
Cara Mengukur Panjang Badan :
1.      Siapkan alat berupa mistar ukur berbentuk lurus.
2.      Tempatkan ternak sapi pada posisi/tempat yang  rata dan pastikan ternak berdiri tegak secara alami.
3.      Ukur ternak dengan menempatkan mistar ukur  pada bagian titik bahu sampai pada tulang duduk
4.       Catatan hasil pengukuran pada form isian yang  telah disiapkan
                                   



Tabel. Pengukuran Sapi Bali Betina
Jenis Sapi
LB
TB Depan
TB Belakang
PB
Sapi Bali Betina
150
117
122
101

IMG_1116.JPG

                                               




                                    Gambar. Pengukuran Sapi
Pertambahan bobot badan sapi juga sangat ditentukan oleh berbagai faktor, terutama jenis sapi, jenis kelamin, umur, ransum atau pakan yang diberikan dan teknik pengelolaanya. Sapi luar negri pada umumnya mempunyai pertambahan bobot badan yang tinggi dibandingkan dengan pertambahan bobot badan jenis sapi lokal. Akan tetapi, jenis sapi luar negri juga lebih membutuhkan ransum yang lebih banyak dan berkualitas dibandingkan dengan jenis sapi lokal. Diantara jenis sapi lokal, sapi ongole dan sapi bali mempunyai pertambahan bobot badan yang lebih tinggi. . Hal tersebut juga perlu ditegaskan lagi sesuai dengan pendapat dari Siregar (2002), bahwa jenis sapi yang mempunyai pertambahan bobot badan yang lebih tinggi belum tentu akan lebih ekonomis untuk digemukkan.

3.2.5 Sistem Pemeliharaan
Dari hasil pratikum Produksi yang telah dilakukaan maka hasil yang di dapatkan adalah, sistim pemeliharaan yang di terapkan di dinas peternakan di pijoan tidak jauh berbeda dengan sistim pemeliharaan yang diterapkan oleh perusahaan yang dikelola oleh para peternak dimasyarakat, kedua nya sama-sama menerapkan sistim pemeliharaan Intensif. Sistim pemeliharaan intesif adalah ternak dikandangkan selama 24 jam dan kontrol semua kegiatannya oleh para peternak secara countiue dan pemberian pakannya pun diberikan langsung oleh peternak dengan memilih pakan yang bagus untuk penggemukan sapi yang ada. Hal tersebut juga di bahas oleh Murtdjo (2011), sistim pemeliharaan Intensif yaitu, sapi hampir sepanjang hari berada di dalam kandang. Sapi tersebut diberi pakan sebanyak dan sebaik mungkin sehingga cepat menjadi gemuk dan kotorannya cepat terkumpul dalam jumlah yang lebih banyak untuk digunakan sebagai pupuk.
3.2.6  Jumlah Sapi
Adapun jumlah sapi di Pijoan sebanyak 70 ekor , diantaranya 40 ekor indukan , 20 e kor anakan dan 10 ekor jantan.
            Gambar . Sapi Bali Jantan

                        Gambar. Sapi Bali
3.2.7  Pemilihan Bibit
Menurut Thalib (2001),bahwa upaya perbaikan mutu genetik sapi potong melalui pengembangan  sapi murni (pemurnian) hanya dapat ditempuh dengan cara seleksi dan  pembentukan breeding stock. Program pemuliaan “Inti-plasma terbuka” (open nucleus breeding scheme) disesuaikan dengan kondisi setempat.  Seleksi lebih difokuskan pada sifat-sifat yang bernilai ekonomis tinggi terutama laju pertumbuhan.
Seleksi bibit dilakukan untuk mendapatkan sapi bakalan sebagai bibit yang mempunyai mutu/produktivitas tinggi. Sebagai bahan pertimbangan sederhana untuk pemilihan bibit didasarkan kepada:
1.      Keserasian karakteristik bangsa yaitu warna, bentuk tubuh meliputi keserasian antara; Kepala, leher dan tubuh.
2.      Tidak tampak adanya cacat tubuh yang dapat menurun.
3.      Standar pemilihan (seleksi) bibit berdasarkan tinggi badan untuk masing-masing bangsa berbeda di antaranya:
a.       Pemilihan tergantung kepada standar bibit Nasional
b.      Pemilihan tergantung kepada standar bibit Regional
c.       Pemilihan tergantung kepada standar bibit populasi yang ada
4.      Untuk sapi pejantan testes harus simetris dan menggantung.
5.      Kondisi sehat, tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan penyakit, bebas penyakit menular dan reproduksi.

3.3 PETERNAK RAKYAT PAK JUMONO
            Jumlah total ternak pak jumono 8 ekor , yang terdiri dari 1 ekor pejantan, 6 ekor betina dan 1 ekor pedet. Yang dimanfaatkan untuk penggemukan dan pengembangbiakan. Dan sapi-sapi pak Jumono adalah bangsa sapi bali.








                                    Gambar .Sapi Bali Pak Jumono
Sapi Bali merupakan keturunan Banteng liar (Bosbibos atau Bossondaicus) yang telah mengalami proses domestikasi selama berabad-abad. Domestikasi sapi Bali diduga terjadi di Asia Tenggara danterpusat di Indonesia. Sapi Bali didomestikasi selama lebih kurang 3500 SM (Rollinson, 1984).
Sapi Bali merupakan satu dari empat bangsa sapi lokal utama (Aceh, Pesisir, Madura dan Bali) di Indonesia. Hubungan antara sapi Bali dan sapi lokal lainnya telah banyak diteliti, salah satunya dengan analisis DNA mitokondria. Menurut Kusdiantoro (2009) hubungan maternal dari sapi Bali asli dari empat tempatberbeda (Sulawesi, Bali, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat) berhubungan erat dengan banteng ditinjau dari analisis DNA mitokondria (mt), kromosom Y (Y) dan mikrosatelitalelautosom (µst).
Ciri-ciri            sapi      bali      yait      bulu    berwarna         merah bata, pada jantan akan menjadi hitam saat dewasa, ada warna putih mulai dari kaki paling bawah hingga belakang paha, pinggiran bibir atas, kaki, mempunyai gumba yang bentuknya khas serta terdapat garis hitam yang jelas di bagian atas punggung.
Kenaikan bobot badan sapi bali per    harinya 0,35    –          0,66 Kg. Dengan manajemen  pemeliharaan yang baik, pertambaan berat badan harian sapi bali bisa lebih besar dari 0,7 Kg/hari. Adapun persentase karkas berkisar 56 – 57%. Perbandingan       daging dengan tulangnya       adalah 4.44:1. Bobot sapi jantan dewasa dapat mencapai 375 – 400 Kg, sedangkan sapi betina dewasa berkisar 275 – 300 kg.

Perkandangan
            Sistem perkandangan ternak pak Jumono secara intensif. Pad aumumnya sapi-sapi yang dipelihara secara intensif hampir sepanjang hari dipelihara berada dalam kandang dan diberikan pakan sebanyak dan sebaik mungkin sehingga cepat gemuk. Di dalam penggemukan sapi yang intensif kebutuhan kandang sangat penting sekali sebagai pelindung panas, hujan dan dingin, memudah kanpemeliharaan pengontrolan penyakit dan pengobatan dengan adanya kandang maka kotoran terkumpul dan mudah pengangkutannya.
            Kandang merupakan tempat tinggal ternak sepanjang waktu, sehingga pembangunan kandang sebagai salah satu faktor lingkungan hidup ternak, harus bisa menjamin hidup yang sehat dan nyaman. Bangunan kandang harus memberikan jaminan hidup yang nyaman bagi sapi dan tidak menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan tata laksana. Oleh karena itu konstruksi, bentuk, macam kandang harus dilengkapi dengan ventilasi yang sempurna, dinding, atap, lantai, tempat pakan, tempat minum, serta adanya saluran drainase yang menuju bak penampung kotoran (Anonimus,2001).
Pengaturan ventilasi sangat penting untuk dicermati. Apabila dinding kandang dapat dibuka dan ditutup maka sebaiknya pada siang hari dibuka dan pada malam hari ditutup. Kandang di dataran rendah dibangun lebih tinggi dibandingkan dengan  kandang di dataran tinggi atau pegunungan. Bangunan kandang yang dibuat tinggi akan berefek pada lancarnya sirkulasi udara didalamnya. Di daerah dataran tinggi, bangunan kandang dibuat lebih tertutup, tujuannya agar suhu di dalamkan dan    lebih stabil dan hangat (Sarwono dan Arianto, 2002).
Perlengkapan kandang yang harus disediakan adalah tempat pakan dan tempat minum. Tempat pakan dan tempat minum dapat dibuat dari tembok beton yang bagian dasarnya dibuat cekung dengan lubang pembuangan air pada bagian bawah, atau bisa juga tempat pakan terbuat dari papan atau kayu dan tempat minum menggunakan ember (Siregar, 2003).

Pakan
            Pakan yang diberikan pak Jumono kepada ternaknya yaitu rumput alam dan rumput kumpeh. Rumput yang didapat dari daerah tersebut. Pada umumnya peternak rakyat tidak memberikan pakan tambahan seperti konsentrat.Pemberian pakan 2 kali sehari yaitu pagi jam 06.00 dan pada sore hari jam 18.00 WIB.
                                    Gambar 3.RumputAlam
Pakan yang diberikan pada seekor ternak harus sempurna dan mencukupi. Sempurna dalam arti bahwa pakan yang diberikan pada ternak tersebut harus mengandung semua nutrien yang diperlukan oleh tubuh dengan kualitas yang baik (Sugeng, 2005) Pakan ternak sapi potong yang cukup nutrien merupakan salah satu unsur penting untuk menunjang kesehatan, pertumbuhan dan reproduksi ternak. Murtidjo (2001) menyatakan bahwa pemberian pakan yang baik dan memenuhi beberapa kebutuhan sebagai berikut :
                   Kebutuhan hidup pokok, yaitu kebutuhan pakan yang mutlak dibutuhkan dalam jumlah minimal.  Meskipun ternak dalam keadaan hidup tidak mengalami pertumbuhan dan kegiatan.

Pemanfaatan Kotoran Hewan Sebagai Kompos
            Pak Jumono adalah peternak yang kreatif beliau juga memanfaatkan kotoran ternak (feses) untuk dijadikan kompos. Beliau membeli feses dari peternak lainnya yaitu RP.3000/karung. Pembuatan komposnya yaitu terdiri dari campuran feses 1 ton ditambah sekam bakar 1 kwintal ditambah serbuk kayu 100 kg dan trikoderma 4 liter. Kemudian empat bahan tersebut dihomogenkan dan disimpan selama 7 hari hingga menjadi kompos yang siap dipasarkan.
 







                                                                                                                                   
            Gambar 4. Pupuk Organik Trichokompos
            Gambar diatas adalah hasil pembuatan kompos yang dibuat pak Jumono, dimana perkarung seberat 10 kg yang dijual dengan seharga Rp.10.000,00 perkarung.`                                                                                                                                   
3.4  Peternakan Pak Kisut
Usaha peternakan pak Kisut mulai dirintis sekitar 8 tahun yang lalu sekitar tahun 2007. Dengan zaman yang semakin berkembang pesat dan kebutuhan konsumen terhadap makanan yang bernilai gizi baik semakin tinggi, maka usaha peternakan ini semakin berkembang dengan baik hingga sekarang.
Jumlah sapi yang ada di peternakan pak Kisut sebanyak 1 ekor sapi jantan. Bangsa sapi yang dipelihara adalah bangsa sapi bali. Sapi Bali, menurut Hardjosubroto (2004) bahwa bangsa sapi potong lokal asli Indonesia yang terbentuk dari banteng (Bibos banteng) yang telah dijinakkan berabad-abad yang lalu. Sapi Bali mempunyai angka reproduksi yang tinggi, tingkat adaptasi yang sangat baik terhadap kondisi pakan yang jelek dan lingkungan yang panas serta mempunyai % karkas dan kualitas daging bagus. Kelemahan sapi Bali adalah rentan terhadap penyakit jembrana dan MCF serta tingkat kematian pedet pra sapih yang mencapai 15 sampai 20 %. Ciri fisik sapi bali : Warna bulu merah bata, pada jantan akan menjadi hitam saat dewasa ; 2) Ada warna putih dengan batas yang jelas pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, kaki bawah mulai tarsus dan carpus ; 3) Mempunyai gumba yang bentuknya khas serta terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung 4) Sapi bali ini merupakan sapi lokal yang memiliki tipe pedaging karena persentase karkas dapat mencapai 56,9 %. 5) Baik sapi bali jantan maupun beina memiliki tanduk. (Hardjosubroto, 2004).
Selain sapi pak Kisut juaga memeliahara kerbau.Jumlah kerbau di peternakan pak Kisut sebanyak 5 ekor kerbau jantan.Jenis kerbau yang dipelihara ialah kerbau rawa.  Kerbau adalah hewan ruminansia dari sub famili Bovidae yang berkembang di banyak bagian dunia dan diduga berasal dari daerah India. Kerbau domestikasi atau water bufallo berasal dari spesies Bubalus arnee. Spesies kerbau lain yang masih liar adalah B. mindorensis, B. depressicornis dan B. cafer (Hasinah dan Handiwirawan, 2006). Kerbau rawa banyak terdapat di daerah Asia Tenggara. Kerbau ini tampak lebih liar dibandingkan dengan kerbau tipe sungai. Fahimuddin (1975) menyatakan bahwa kerbau rawa merupakan kerbau yang berbadan pendek, besar, bertanduk panjang, memiliki konformasi tubuh yang berat dan padat. Ciri-ciri bagian muka kerbau rawa adalah dahi datar, muka pendek, moncong lebar dan terdapat bercak putih di sekitar mata. Mason (1974a) menambahkan bahwa kerbau rawa memilki tubuh dan kaki yang pendek, perut yang luas dan leher panjang.

Peternakan pak Kisut  adalah peternakan yang menerapkan sistem pemeliharaan intensif (perkandangan) .  Ciri-ciri Fisik kandang peternakan pak Kisut  yaitu,  lantai yang terbuat dari semen, dinding kayu , tempat pakan terbuat dari semen , tempat minum menggunakan ember. Luas kandang dengan lebar 8 meter dan panjang10 meter. Tinggi tiang 3 meter dan beraatap seng, dan di kandang juga terdapat pembuangan kotoran, lalu  apabila  kotoran sudah banyak  akan di jadikan pupuk kandang untuk perkebunan sawit pak kisut. kata ibu lastina( istri pak kisut) Pembersihan kandang di lakukan sebanyak 2x sehari yaitu pagi dan sore hari dan di peternakan pak kisut juga membersihkan atau memandikan ternak apabila di lihat ternak sudah kotor.
Pakan yang diberikan pada ternak adalah rumput alam. Pakan diberikan sebanyak 3 kali sehari yaitu pada pagi, sore dan malam hari. Biasanya rumput alam diambil langsung dari alam setiap sore hari. Dibelakang  kandang terdapat kubangan untuk kerbau berkubang Kerbau dan  sapi dipeternakan pak Kisut tidak untuk penggemukan tapi hanya untuk peternakan penitipan sementara saja , karena di peternakan ini setiap saat kerbau dan sapi bisa di jual apabila kiranya sudah  mendapatkan keuntungan , setelah ternak di kandang hanya tersisa sedikit atau habis peternakan pak kisut mencari  ternak lain di peternakan rakyat lain yang berasal dari jambi dan Palembang dan di letakkan di ternak pak kisut untuk di rawat dan di jual kembali.

3.5 Peternakan Pak Mistok
Usaha peternakan pak Mistok mulai dirintis sekitar 9 tahun yang lalu. Dengan zaman yang semakin perkembangan pesat dan kebutuhan konsumen terhadap makanan yang bernilai gizi baik semakin tinggi, maka usaha peternakan ini semakin berkembang dengan baik hingga sekarang.
Jumlah sapi yang ada di peternakan pak mistok sebanyak 11 ekor sapi jantan. Bangsa sapi yang dipelihara adalah bangsa sapi bali. Sapi Bali, menurut Hardjosubroto (2004) bahwa bangsa sapi potong lokal asli Indonesia yang terbentuk dari banteng (Bibos banteng) yang telah dijinakkan berabad-abad yang lalu. Sapi Bali mempunyai angka reproduksi yang tinggi, tingkat adaptasi yang sangat baik terhadap kondisi pakan yang jelek dan lingkungan yang panas serta mempunyai % karkas dan kualitas daging bagus. Kelemahan sapi Bali adalah rentan terhadap penyakit jembrana dan MCF serta tingkat kematian pedet pra sapih yang mencapai 15 sampai 20 %.










            Gambar. Sapi bali yang terdapat di peternakan pak mistok

Ciri fisik sapi bali : Warna bulu merah bata, pada jantan akan menjadi hitam saat dewasa ; 2) Ada warna putih dengan batas yang jelas pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, kaki bawah mulai tarsus dan carpus ; 3) Mempunyai gumba yang bentuknya khas serta terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung 4) Sapi bali ini merupakan sapi lokal yang memiliki tipe pedaging karena persentase karkas dapat mencapai 56,9 %. 5) Baik sapi bali jantan maupun beina memiliki tanduk. (Hardjosubroto, 2004)
Peternakan pak Mistok adalah peternakan yang menerapkan sistem pemeliharaan intensif (perkandangan) .  Ciri-ciri Fisik kandang peternakan pak Mistok yaitu,  lantai yang terbuat dari semen, dinding papan , tempat pakan terbuat dari kayu , tempat minum menggunakan ember. Luas kandang dengan lebar 5 meter dan panjang meter. Tinggi tiang 3 meter, atap seng, menggunakan selokan dari semen sekitar 3 meter dari tempat pakan , dan dibagian belakang dijadikan tempat penampungan feses yang akan dijadikan kompos. Ada juga tempat pemotongan hewan dibelakang rumah , akan tetapi sudah tidak digunakan karena jumlah sapi yang terlalu sedikit atau mulai berkurang.
Sesuai dengan pendapat iwan supriyadi (2009) menyatakan Selokan berfungsi sebagai tempat pembuangan kotoran. Selokan biasanya dibuat dengan lebar 20--30 cm dan kedalaman 10--20 cm. Selokan ini dibuat di dalam kandang di bagian ekor sapi, baik itu di kandang tunggal maupun kandang ganda. Tujuannya, agar pekerja mudah membersihkan kotoran dan urine sapi.
Pakan yang diberikan pada ternak adalah rumput alam. Pakan diberikan sebanyak 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Biasanya rumput alam diambil langsung dari alam setiap sore hari.

3.6 PETERNAKAN BAPAK  SUHAINI (KUMPE)          

            Pada praktikum produksi ternak potong di daerah kumpe, tepatnya di peternakan bapak suhaini. Di peternakan itu memiliki sejumlah ternak kerbau dengan bangsa kerbau rawa,   Kerbau Lumpur (swamp buffalo) Kerbau ini memiliki ciri sebagai berikut:
1) Warna kulit coklat kehitam-hitaman
2) Tubuhnya relatif pendek dan
 3) Kaki pendek serta tanduknya agak melenkung.
           
            Keragaan dan Karakteristik Kerbau,  Kerbau yang ada di peternakan bapak suhaini (kumpe)termasuk dalam kelompok kerbau rawa atau kerbau lumpur. Data di bawah ini merperlihatkan karakteristik kerbau rawa di Peternakan bapak suhaini.
            Karakteristik kerbau rawa di Peternakan bapak suhaini Bagian Tubuh  Bentuk tubuh : Persegi panjang (agak persegi)Warna bulu ,  Untuk kerbau yang berumur di bawah 2,5 tahun warna bulu krem atau coklat muda, untuk kerbau yang umurnya di atas 2,5 tahun warna bulunya lebih coklat kelabu kehitaman, semakin tua maka warna semakin kelam. Panjang bulu, Yang masih muda lebih panjang dibanding yang tua (4-5 cm) Kepala Besar dan tampak agresif
Muka, Segitiga panjang dan cembung Dahi, Lebar dan ditumbuhi bulu yang lebat & rapi sehingga kelihatan seperti disisir.Daun telinga, Ada yang runcing & tumpul bagian ujungnya, warna kecoklatan dan merah , yang berwarna merah sangat galak. Jumlah 2 buah bentuk telinga, Ke samping dan mengarah keatas
 Mulut, Lebar dan tumpul, Leher,  Pendek, besar, di bagian pangkal leber bagian bawah dengan badan ada garis seperti kalung yang berwarna putih Mata, Berbentuk bulat dan berwarna coklat kehitaman dengan bagian pinggir ditumbuhi bulu bagian hitam berwarna hitam dan bagian luar berwarna coklat ada bulu mata tapi jarang dan panjang alis ada tapi beragam ada yang tebal dan tipis sorot mata sayu Tanduk: Berbentuk agak pipih pada pangkalnya serta bulat dan runcing pada ujungnya, tumbuh mengarah kesamping kemudian lurus kebelakang, berjumlah 2 buah.
            Ada terdapat 4 macam bentuk tanduk : v Ke samping, naik ke atas v Ke samping, naik ke atas dan melengkung v Ke samping, melengkung ke belakangv Ke samping, yang 1 naik ke atas dan 1 turun ke bawah (tdk semetris) Panjang tanduk tergantung umur, pada umumnya semakin tua maka makin panjang tanduknya. Kaki, Depan lurus sampai lotot sedang belakang agak miring kebelakang denghan warna putih dari lotot sampai teracak. Teracak,  Melebar keluar dan bagian atas (seperti jempol) bagian depan lebih panjang & besar dari bag. belakang. Pangkal ekor, Seperti cembung dan dalam keaadan buntuing tua berubah menjadi sangat cekung. Punggung, Ditumbuhi bulu yang lebat dan tumbuhnya mengarah ke depan.Ada 3 kriteria :Gemuk,  lurus Sedang : lurus tapi ada melengkung di bagian depanKurus, lurus tapi di bagian belakang dan depan melengkung.
            Jumlah kerbau rawa yang terdapat di peternakan bapak suhaini berjumlah 25 ekor kerbau lumpur/ kerbau rawa, dan kerbau ini merupakan jenis kerbau lokal dan terdiri dari 12 pejantan sisanya indukan dan anakan.
Peternakan ini mulai di dirikan pada tahun 2005,dengan sistem pemeliharan intensif, berlanjut pada tahun 2007, dengan sistem pemeliharaan semi intensif. Berhubung sistem pemeliharannya semi intensif cara pemberian pakannya dengan dengan cara tidak menentu, karena kerbau memanfaatkan rumput-rumput yang ada di sekellingnya, jenis rumput yang di makan adalah rumput alam sedangkan menurut penjelasan dari pemilik peternakan, kerbau tersebut memakan limbah-limbah sawit di area peternakan.
Menurut keterangan dari pemilik kerbau tersebut, bahwa sistem awal dalam membangun peternakan dengan cara pembibitan, dimana pembibitan merupakan cara yang digunakan untuk para peternak sebagai awal dari permulaan membangun sebuah peternakan yang di mulai dari pemeliharaan anakan kerbau, serta diikuti dengan sistem pemeliharaan dengan cara penggemukan, dapat diketahui bahwa penggemukan di peternakan ini sangatlah bagus, dengan perkembangan yang sangat signifikan dimana berat bobot kerbau yang selalu bertambah sebesar 200kg/3tahun, dan kelebihan bobot badan ini merupakan kendala dari pemeliharaan, karena dengan bobot yang sudah melewati batas kerbau idea harga jual sapipun akan menurun, maka dari itu di setiap sistem pemeliharaan memiliki beberapa kendala dan memiliki beberapa keuntungan.



BAB IV
PENUTUP


 4.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ternak potong di RPH, Pijoan , Kumpeh adalah dimana semua sapi yang diternak adalah jenis sapi bali, simental , brahman , dan simba sedangkan jenis kerbau yaitu kerbau rawa. Sistem pemeliharaan intesif adalah ternak dikandangkan selama 24 jam dan kontrol semua kegiatannya oleh para peternak secara countiue dan pemberian pakannya pun diberikan langsung oleh peternak dengan memilih pakan yang bagus untuk penggemukan sapi yang ada.


4.2 Saran

  Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah  dimana kita selalu menjaga ketertiban dalam  praktikum sehingga praktikum berjalan dengan lancar.



DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. 2003. Penggemukan Sapi Potong. Jakarta. Agromedia Pustaka
Anonim. 2012. Makalah Ternak Sapi Potong. http://dodikdodik.blogspot.com. 13 November 2015
Siregar. 2002. Anallisis Sapi Potong. Bandung. Erlangga
Romjali, Endang dkk. 2007. Rakitan Teknologi Pembibitan Sapi Potong. Makalah disajikan dalam Workshop Loka Penelitian Sapi Potong di Grati– Pasuruan, Banyuwangi 17 Desember 2008.
Thalib. 2001. Seleksi Pembibitan. Gramedia: Jakarta
Hardjowigeno, sarwono. 2010. Ilmutanah. Jakarta: AkademikaPressindo.
Fuad.2011. http://fuadmje.wordpress.com/2011/11/06/kompos/.Diaksespadatanggal 4 desember 2012, Provinsi Jambi.
Jujun.2011. http://jujun-pelangidanmatahari.blogspot.com/2011/09/pembuatan-pupuk-kompos.html.Diaksespadatanggal 4 desember 2012, Provinsi Jambi.
Wahyuaskari.2012. http://wahyuaskari.wordpress.com/literatur/pembuatan-kompos/.Diaksespadatanggal 4 desember 2012, Provinsi Jambi.




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar