BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ternak perah merupakan ternak
yang menghasilkan susu melebihi kebutuhan konsumsi susu anak-anak sapi.
Produksi susu tersebut dapat dipertahankan sampai waktu tertentu atau selama
masa hidupnya walaupun anak-anaknya sudah disapih atau sudah tidak disusui
lagi. Dengan demikian susu yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Ruminansia merupakan binatang
berkuku genap subordo dari ordoArtiodactyla disebut juga mammalia
berkuku. Nama ruminan berasal dari bahasa Latin "ruminare" yang
artinya mengunyah kembali atau memamah biak, sehingga dalam bahasa Indonesia
dikenal dengan hewan memamah biak. Sistem pencernaan (tractus digestivus)
ruminansia terdiri atas suatu saluran muskulo membranosa yang terentang dari
mulut sampai ke anus. Fungsinya adalah memasukan makanan, menggiling, mencerna
dan menyerap makanan serta mengeluarkan buangannya yang berbentuk padat. Sistem
pencernaan mengubah zat-zat hara yang terdapat dalam makanan menjadi senyawa
yang lebih sederhana hingga dapat diserap dan digunakan sebagai energi,
membangun senyawa-senyawa lain untuk kepentingan metabolisme. Ternak ruminansia
juga ada yang dapat menghasilkan produksi susu yang lebih dari yang dapat
dikonsumsi anaknya selama masa laktasi yang dikenal dengan sebutan ternak
perah.
Susu adalah sekresi susu yang
praktis bebas dari kolesterum yang diperoleh dari pemerahan sempurna dari
seekor sapi atau lebih. Susu tidak saja dihasilkan oleh ternak sapi tetapi juga
dihasilkan ternak kambing. Susu merupakan bahan makanan yang bernilai gizi
tinggi karena mengandung hampir semua zat-zat yang diperlukan oleh tubuh.
Susu merupakan bahan pangan yang tersusun oleh lemak, protein, air,
karbohidrat, mineral dan vitamin-vitamin dengan nilai gizi yang tinggi dan seimbang.
Didalam susu juga terdapat sejumlah mikroba, baik mikroba yang patogen maupun
mikroba non patogen.
Susu merupakan sumber protein,
sumber energi sehingga dapat memberikan kepada kita kesehatan, maka dari
itu minat beli masyarakat sangat tinggi walaupun harga susu kadang-kadang naik
tetapi tidak menyurutkan daya beli masyarakat terhadap produksi susu.
Susu merupakan hasil utama
dari ternak selain daging dan telur yang sangat diminati oleh masyarakat
dan susu sangat bermamfaat bagi kebutuhan manusia tetapi juga sangat dibutuhkan
oleh anak dari ternak itu sendiri, karena air susu yang pertama kali keluar
dari induk mengandung banyak sekali anty bodi atau pelindung tubuh anak agar
tidak mudah terserang oleh berbagai penyakit yang bisa menyebabkan ternak itu
cacat atau mati.
Untuk mendapatkan susu sapi
yang baik yang bermutu tinggi
maka perlu
dilakukan beberapa langkah pertama pada waktu pemerahan harus mengetahui kapan
ternakut siap untuk diperah serta berapa lama pemerahan berlansung kemudian
yang kedua pada waktu pemerahan kita harus mengetahui kebersihan dari tempat
pemerahan serta kebersihan dari ternak yang diperah karena apabila ternak yang
diperah tersebut tidak bersih akan mengganggu kualitas dari air susu tersebut.
Ternak perah adalah ternak
yang secara genetic mampu menghasilkan susu melebihi kebutuhan anaknya,
misalnya sapi, kambing, kerbau dan lain-lain. Ternak perah mempunyai ciri-ciri
khusus yang berhubungan langsung dengan produksi susu. Industri ternak prah
didasarkan pada kemampuan hewan mamalia untuk memproduksi susu melebih
kebutuhan untuk perawatan dan pertumbuhan anaknya.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan pelaksanaan praktikum
Produksi Ternak Perah ialah untuk mengetahui proses terjadinya susu dan
kegunaannya, serta berbagai jenis dan bangsa ternak yang dapat menghasilkan
susu maka perlu pemahaman tentang aspek yang mendasar tentang ternak perah.
Selain itu, tujuan dari praktikum ini ialah agar mahasiswa mendapatkan
pengalaman baru yang belum pernah diketahui tentang hal mendasar yang berkaitan
dengan ternak perah.
Manfaat yang dapat kita peroleh
dari praktikum ini adalah dengan adanya hasil dari praktikum yang telah
dilaksanakan, maka dapat digunakan sebagi titik acuan dan bahan perbandingan
didalam menjawab segala permasalahan tentang ternak perah tersebut, dan juga
sebagai masukan bagi kita semua di dalam mata kuliah Produksi Ternak Perah, dan
menjadi syarat di dalam memenuhi tugas praktikum dan mata kuliah Produksi
Ternak Perah. Serta dari praktikum ini kita dapat mengetahui bagaimana anatomi
system pencernaan ternak ruminansia dan apa saja fungsi dari setiap bagiannya,
mengetahui cara pemeriksaan kesegaran susu, komposisi susu, moikrobiologi susu,
dan pemalsuan susu. Tentunya banyak sekali hal bermanfaat yang dapat diperoleh
selama melaksanakan praktikum ini.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Anatomi Alat Pencernaan
(Arora, 2005) Saluran
pencernaan ruminansia terdiri dari rongga mulut (oral), kerongkongan (oesophagus), proventrikulus (pars
glandularis), yang terdiri dari rumen, retikulum, dan omasum;
ventrikulus (pars muscularis) yakniabomasum, usus
halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum crassum),
sekum (coecum), kolon, dan anus. Lambung sapi sangat besar, yakni ¾ dari
isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan
sementara yang akan dikunyah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung
juga terjadi pembusukan dan peragian.
(Bali, 2011) Mikroba dalam rumen
juga mampu mensintesis asam amino dari non protein nitrogen sumber, seperti
urea dan amoniak. Seperti mikroba mereproduksi dalam rumen, generasi tua mati
dan sel-sel mereka melanjutkan melalui saluran pencernaan. Sel-sel ini
kemudian sebagian dicerna oleh ternak, yang memungkinkan mereka untuk
mendapatkan sumber protein berkualitas tinggi. Fitur-fitur ini
memungkinkan ternak untuk berkembang pada rumput dan vegetasi lainnya.
( Blakely, 2001) Ternak
kambing berbeda dengan ternak mamalia lainnya karena mempunyai lambung sejati
yaitu abomasum dan lambung depan yang membesar yang mempunyai tiga ruangan
yaitu reticulum, rumen, dan omasum.
( Blakely, 2001 ) Omasum
merupakan bagian ketiga lambung ternak kambing yang menghubungkan retikulorumen dan abomasums.
Abomasum merupakan bagian keempat yang disebut juga perut sejati. Dengan demikian
ternak ruminansia dapat memanfaatkan pakan berserat kasar tinggi serta mampu
mengolahnya menjadi produk dengan nilai biologis tinggi.
( Biologigonz, 2010 ) Rumen dan
reticulum sering dipandang sebagai organ tunggal disebut sebagai retikulorumen yang
merupakan tempat terjadinya pencernaan fermentative. Retikulum ini
mendorong pakan padat daningesta ke dalam rumen dan
mengalirkan ingesta kedalam omasum. Retikulum membantu
ruminasi dimana bolus diregurgitasikan ke dalam mulut. Ingestayang
telah halus didorong ke dalam rumen untuk dicerna lebih lanjut oleh mikroba.
Mikroorganisme yang terdapat dalam rumen adalah bakteri, protozoa dan fungi.
(Biologigonz, 2010) Saluran
pencernaan hewan memamah biak terdiri atas organ-organ pencernaan sebagai
berikut :
1. Rongga
Mulut (Cavum Oris)
2. Kerongkongan
(Esofagus)
3. Lambung
4. Usus
Halus
5. Sekum
6. Usus
Besar
7. Anus
(Dudee, 2009) Hewan memamah
biak (Ruminansia) adalah hewan herbivora murni, contohnya sapi, kerbau
dan kambing. Disebut hewan memamah biak karena memamah atau mengunyah
makanannya sebanyak dua fase. Pertama saat makanan tersebut masuk ke
mulut, makanan tersebut tidak dikunyah hingga halus dan terus ditelan,
selang beberapa waktu makanan tersebut dikeluarkan kembali ke mulut untuk
dikunyah sampai halus.
(Dudee. 2009) Walaupun
memiliki caecum yang besar, kambing ternyata tidak mampu
mencerna bahan-bahan organik dan serat kasar dari hijauan sebanyak yang dapat
dicerna oleh ternak ruminansia murni. Daya cerna kambing dalam mengonsumsi
hijauan daun mungkin hanya 10%. Di alam, kambing liar dapat memenuhi
kebutuhannya sendiri dengan jenis pakan yang di kehendaki. Jumlah pakan minimal
dan ragam pakan dapat terpenuhi sehingga terjadi keseimbangan dalam pertumbuhan,
kesehatan dan perkembangbiakannya. Kalau kebutuhan itu tidak tercapai, dengan
sendirinya kambing berangsur-angsur gugur menghadapi seleksi alam.
(Melly, 2011) Hewan memamah
biak mempunyai makanan berupa rumput atau tumbuhan. Hewan memamah biak
mempunyai sistem pencernaan dengan struktur khusus yang berbeda dengan hewan
karnivora dan omnivora.
(Melly, 2011) Ternak terdapat
beberapa jenis, diantaranya ternak ruminansia dan ternak non ruminansia.
Ruminan terjadi pada hewan pemamah biak, Pengeluaran kembali makanan yang telah
tercerna sebagian yang disebutcad, keluar dari rumen yang mengunyahnya
untuk kedua kalinya disebut jugacudding. Hewan ruminansia adalah hewan
pemakan hijauan atau herbivora yang memiliki lambung dengan beberapa ruangan.
(Sarwono, 2003) Kambing merupakan
binatang memamah biak yang berukuran sedang. Ternak kambing (Capra
aegagrus hircus) adalah subspesies kambing liar yang secara alami tersebar di Asia Barat Daya (daerah "bulan sabit yang subur" dan
Turki) Eropa. Kambing liar jantan maupun betina memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada
kambing jantan lebih besar.
PEMERIKSAAN KESEGARAN SUSU
Aak, (2005) menyatakan bahwa
penyaringan perlu dilakukan dengan segera guna menghindari agar jangan sampai
jumlah mikroba yang terdapat didalam air susu bertambah.
Aak
(2005) yang menyatakan bahwa susu segar adalah susu yang tidak
dikurangi atau ditambah apapun, yang diperah oleh ari pemerahan sapi yang sehat
secara kontimue dan sekaligus sampai sempurna. Bahwa pendapat ahli-ahli dahulu
susu mempunyai ciri-ciri khas susu yang baik dan normal adalah susu tersebut
terdiri dari konversi warna kolostrum yang berwarna kuning dengan warna air
susu yaitu putih, jadi susu normal itu berwarna putih kekuning-kuningan.
Amanalis
(2002), yang menyatakan bahwa pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk
membunuh seluruh mikroorganisme baik pembusuk maupun pathogen dan pemanasan
yang singkat bertujuan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu tersebut.
Buckle, dkk
(2007) menyatakana bahwa uji reduksi dapat menunjukan tingkat kegiatan
bakteri sehingga dapat memungkinkan diklasifikasikan susu sebagai susu yang
dapat diterima atau tidak untuk kegunaan tertentu.
Devendra
(2007), yang menyatakan bahwa Susu segar adalah susu yang tidak dikurangi atau
ditambahkan apapun yang diperoleh dari pemerahan sapi yang sehat secara
kontiniyu dan sekaligus yang secara sempurna.Pada suhu yang lebih rendah, masa
simpan susu akan menjadi lebih panjang dan bila menunjukkan suhu 25oC,
maka kesegaran susu dapat mencapai 11-12 jam untuk durasi pemanfaatannya.
Ediwigato (2006), menyatakan
bahwa tujuan penyaringan untuk memisahkan benda-benda asing seperti debu,
pasir, dan sebagainya dengan kertas saring yang bersih dan selera menjadi
tambeh, selain selera juga tidak ada menghambat yang menimbulkan pencernaan
terganggu dari pada kotoran tersebut.
Gusriyanti.
(2006). menyatakan bahwa angkat reduktase adalah waktu yang diperlukan
untuk merubah zat warna biru metilen menjadi putih yang mana nilainya secara
kasar berbanding terbalik dengan jumlah organisme yang ada.
Karyadi (2009), menyatakan
bahwa susu normal memiliki pH 6.6-6.7 dan bila terjadi banyak pengasaman oelh
bakteri nilai pH akan menurun secara nyata. Bila hal ini dianggap sebagai tanda
adanya mastitis pada sapi karena penyakit ini menyebabkan perubahan mineral
dalam air susu.
Robert. L.
Diyert (2007), menyatakan bahwa susu yang bagus dan layak dikuonsumsi
sedikit ada rasa manisnya selain untuk rasa juga dapat meningkatkan selera
untuk minum susu.
Sudarmadji, dkk. (2004) yang menyatakan bahwa penyaringan bertujuan untuk memisahkan suatu cairan
dari bahan padat yang terdapat pada cairan itu dengan cara menuang cairan pada
bahan penyaringan.
PEMERIKSAAN KOMPOSISI SUSU
Amiransyah
(2008) berpendapat bahwa air susu yang baik atau normal memiliki Bs 1,027
– 1,031 pada temperatur 27,5o perbedaan BJ yang mencolok harus
dikurangi.
Bambang
(2008), bahwa bahan kering adalah sisa makanan sesudah diuapkan airnya
Devendra,
(2007). yang menyatakan bahwa Susu segar adalah susu yang tidak dikurangi
atau ditambahkan apapun yang diperoleh dari pemerahan sapi yang sehat secara
kontiniyu dan sekaligus yang secara sempurna,
Hadiwiyoto ( 2005
) berpendapat bahwa susu mengandung protein rata-rata 3,5%. Protein merupakan gabungan dua
atau lebih asam-asam amino yang penyusun utamanya adalah atom karbon, atom
hydrogen, dan atom nitrogen.
Judkins dan
Keener (2009) berpendapat bahwa pada prinsipnya penentuan kadar lemak susu
menurut Gerber sama saja dengan metodaBabcock. Botol yang digunakan
disebut Butyrometer. Jadi penentuan kadar lemak susu dengan metoda ini
juga menggunakan dasar penambahan asam sulfat yang akan memisahkan lemak susu.
Mozes,
(2008). yang menyatakan bahwa Pengeringan susu pada suhu yang tertentu
mengarah langsung pada suhu pengeringan yang tidak stabil, sehingga akan
menyebabkan kadar bahan kering susu tersebut nilainya tidak konstan,
Poole,
(2009). yang menyatakan bahwa Air susu yang dihasilkan melalui suatu
proses sekretarit sejati pada bagian awal air susu sapi pada suatu pemerahan
mengandung kadar lemak yang sangat renda, sekitar 1 %.
Raguarti
(2010) berpendapat bahwa komposisi susu terdiri dari air, bahan kering,
lemak dan protein. Dimana komposisi susu ini mencakup jenis kandungan gizi yang
mana bermanfaat bagi kesehatan bagi tubuh hewan maupun manusia.
Swenson. F.
(2004). yang menyatakan bahwa Berat jenis suatu bahan adalah perbandingan
antara berat bahan tesebut dengan berat air pada volume dan suhu yang
sama. Berat jenis rata-rata
1,032 atau berkisar antara 1,027-1,035. Prinsip dari pengujian berat jenis
yaitu benda padat yang dicelupkan ke dalam suatu cairan akan mendapatkan
tekanan ke atas seberat volume cairan yang dipindahkan
Winarto. J. S. (2009) yang menyatakan bahwa.Susu merupakan substrat yang baik untuk pertumbuhan
mikroba, karena kadar airnya tinggi, pH-nya netral dan kaya akan zat makanan
yang diperlukan oleh mikroba. Susu juga merupakan emulsi lemak dalam air yang
mengandung garam-garam mineral, gula, dan protein. Komposisi terbesar terjadi
pada kandungan lemak, karena kadar lemak susu sangat dipengaruhi baik oleh
faktor internal maupun eksternal.
PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGI
SUSU
Breed dan Dotterrer pada tahun
(2006) yang mengatakan bahwa kisaran hitung yang normal adalah selitar
25-250 koloni/cawan.
Benhards (2008) yang
mengatakan bahwa Pengenceran yang dilakukan dalam percobaan ini adalah
pengenceran desimal yaitu 10-1, 10-2, 10-3, 10-4 dan 10-5. Dan yang diplating
dan diamati adalah pengenceran 10-3, 10-4, dan 10-5. Hal ini karena
diperkirakan koloni yang terbentuk oleh Escherichia Coli berada pada jumlah
yang dapat dihitung pada pengenceran tersebut. Selain itu, perhitungan jumlah koloni
akan lebih mudah dan cepat jika pengenceran dilakukan secara
desimal.
Hediwiyoto
(2002) berpendapat bahwa bila jumlah bakteri terhitung pada suatu
pengenceran hasilnya dua kali lebih besar dari pada jumlah bakteri terhitung
pada pengencer sebelumnya, maka yang digunakan adalah jumlah bakteri pada
pengenceran yang besar.
Fardiaz, (2003). yang
menyatakan bahwa Prinsip dari metode hitungan cawan adalah menumbuhkan sel
mikrobia yang masih hidup pada metode agar, sehingga sel mikrobia tersebut akan
berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata
tanpa menggunakan mikroskop Metode hitungan cawan dapat dibedakan atas dua cara
yaitu : Metode tuang (pour plate), Metode permukaan (surface / spread
plate)
Fardius, (2002). yang
menyatakan bahwa Perhitungan jumlah koloni akan lebih mudah dan cepat jika
pengenceran dilakukan secara decimal. Semakin tinggi jumlah mikroba yang
terdapat di dalam sample, semakin tinggi pengenceran yang harus dilakukan
Farmansyah (2003) yang
mengatakan bahwa Metode hitungan cawan juga mempunyai kelemahan, yaitu: Hasil
perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel mikroba yang sebenarnya, karena
beberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni, Medium dan kondisi
yang berbeda mungkin menghasilkan niali yang berbeda, Mikroba yang ditumbuhkan
harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang kompak dan
jelas, tidak menyebar, Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi beberapa hari
sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung.
Fendrikus (2004). yang mengatakan
bahwa Pada penanaman bakteri dibutuhkan kondisi aseptis atau steril, baik pada
alat maupun proses, untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya mikrobia yang
tidak diinginkan.
Gusriyanti, (2006). yang
menyatakan bahwa Mutu susu segar juga harus didukung oleh cara pemerahan yang
benar termasuk didalamnya adalah pencegahan kontaminasi fisik dan mikrobiologis
dengan sanitasi alat pemerahan dan sanitasi pekerja
Tomasiewicz (2006) yang
menyimpulkan bahwa kisaran hitung untuk plate count dengan ulangan 3 kali
(triplicate) yaitu 25-250 koloni/cawan. Kesimpulan ini didapat dari data
analisa susu (raw milk) pada tiga eksperimen yang berbeda
Waluyo, (2004). yang menyatakan bahwa dimana jumlah terbaik adalah antara 30 sampai 300 sel
mikrobia per ml, per gr, atau per cm permukaan (Fardiaz, 1993). Prinsip
pengenceran adalah menurunkan jumlah sehingga semakin banyak jumlah pengenceran
yang dilakukan, makin sedikit sedikit jumlah meikrobia, dimana suatu saat
didapat hanya satu mikrobia pada satu tabung.
PEMERIKSAAN PEMALSUAN SUSU
Brody (2002), yang
menyatakan bahwa dalam pembuktian pemalsuan susu yang ditambahkan pati
maka dapat duji dengan mencapurkan larutan asam asetat, larutan lugol, dan
tabung reaksi tersebut dipanaskan.
Friendhsman.
P (2000), menyatakan bahwa dalam bundaran pengamatan mikroskop, butiran
lemak susu akan diprioritaskan lebih berhomogen serta mengandung struktur yang
lebih kecil, dibandingkan dengan spesifikasi lemak nabati lainnya.
Frandson (2002) yang mengatakan
bahwa dalam pemeriksaan pemalsuan susu dengan cara pembuktian penambahan pati
bila positif mengandung pati maka filtrate warna menjadi biru, kemudian bila
warna kuning berarti negatif dan bila berwarna hijau reaksi diragukan
Golemen (2003),yang menyatakan
bahwa dalam pemeriksaan pemalsuan susu dengan cara pembuktian penambahan susu
masak dengan uji Storch maka susu yang dipanaskan pada suhu 77-80 o C
maka warnanya tetap berwarna putih.
Girisanto R.
F (2003), yang menyatakan kebanyakan produk susu dengan menambahkan
pemalsu warna susu yang segar dengan alat berupa colouring matherials yang
cukup membahayakan apabila dikonsumsi oleh tubuh terhadap stabilitas kesehatan.
Partodihardjo
(2003) yang berpendapat bahwa dengan penambahan air kedalam susu, maka berat
jenis, kadar lemak dan bahan kering susu akan turun, sedangkan titik beku akan
mendekati 0 ( nol ).
Ressang dan
Nasution ( 2002 ) berpendapat bahwa didalam susu mentah terdapat enzim
Peroksida yang akan terurai oleh pemanasan diatas 75oC. Enzim ini akan
membebaskan oksigen dari larutan Peroksida yang ditambahkan kedalam susu.
Soesilorini
(2007), menyatakan bahwa tehnik termudah dalam pembuktian pemalsuan pada
susu yang berspesifikasi dengan air adalah dengan mencelupkan laktodensimeter
pada larutan susu, sesaat kemudian akan terbaca kadar berat jenisnya yang
sangat minimum.
Warmansya
(2001), berpendapat bahwa dengan penambahan santan kedalam susu, berat
jenis naik ( tetapi dapat juga turun ), kadar lemak naik dan angka Katalase
naik. Dan akan terlihat adanya ukuran lemak yang heterogen, kadangkala disertai
dengan sel tumbuhan yang dapat dikenali dengan sel yang tidak berdinding.
Wenson. F
(2004), yang menyatakan berat jenis suatu bahan adalah perbandingan antara
berat bahan tesebut dengan berat air pada volume dan suhu yang sama. Berat
jenis rata-rata 1,032 atau berkisar antara 1,027-1,035. Prinsip dari pengujian
berat jenis yaitu benda padat yang dicelupkan ke dalam suatu cairan akan
mendapatkan tekanan ke atas seberat volume cairan yang dipindahkan.
BAB
III
MATERI
DAN METODA
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum ini
dilaksanakan setiap hari Rabu mulai Tanggal 21 Oktober sampai 25 November 2015,
pada pukul 14:00 WIB s/d selesai di Laboratorium Gedung C Fakultas Peternakan
Universitas Jambi.
3.2 Materi
Adapun alat-alat yang digunakan
pada praktikum Anatomi alat pencernaan, Pemeriksaan Kesegaran Susu, Pemeriksaan
Komposisi Susu, Pemeriksaan Mikrobiologi Susu, dan Pemeriksaan Pemalsuan Susu
ialahCutter 2 buah, Terpal berukuran 1 x 1 m, ember, sarung tangan, Tabung Reaksi, Penjepit Tabung
Reaksi, Gelas Becker, Pipet 10 ml, Pembakar Bunsen, Botol 100 ml, Kertas
Saring, Corong, Tabung Erlemeyer, pH meter digital, Tabung Reduktase, Penangas
Air, dan Pipet ( 1 ml dan 25 ml ), yaitu Laktodesimeter, Termometer, Gelas Ukur
( 100 ml dan 250 ml ), Labu Erlemeyer ( 250 ml dan 500 ml) Timbangan Analitik
skala 0,1 mg, Oven temperatur 102o C, Eksikator, Cawan Gelas
dengan penutup diameter 5 cm, Butyrometer, Pipet Otomat ( 1 ml ± 0,05 ml dan 10
ml ), Pipet khusus susu 10,75 ml, Sentrifus, Gelas Becker, Buret, Media PCA
( Plate Count Agar ), Botol 150 ml atau tabung Reaksi 20-50 ml
steril, Pipet Steril ( 1 ml, 5 ml, 10 ml, dan 11 ml ), Penyedot Pipet, Cawan
Petri Steril, dan Inkubator.
3.3 Metoda
ANATOMI ALAT PENCERNAAN
Adapun metoda dalam
praktikum Anatomi Saluran Pencernaan yaitu praktikan diminta untuk
mendengarkan dan memperhatikan asdos menjelaskan bagian-bagian dari
saluran pencernaan serta fungsinya, kemudian praktikan diminta untuk
menjelaskan kembali apa yang telah disampaikan asdos dan diberi beberapa
pertanyaan secara lisan.
PEMERIKSAAN KESEGARAN SUSU
Adapun cara yang digunakan pada
pemeriksaan kesegaran susu ini yaitu pada Uji Sensorik atau uji Organoleptik yaitu terlebih dahulu
masukkan 5-10 ml sample susu kedalam tabung reaksi. Amatilah
warna susu tersebut : bila warna putih susu berarti susu tersebut normal
(baik), bila berwarna biru berarti susu tersebut dicampur dengan air, bila
berwarna kuning berarti susu tersebut banyak mengandung karoten, bila berwarna
merah berarti pada susu tersebut terdapat darah.
Mengamati Bau dari susu
dengan cara yaitu terlebih dahulu sample susu diambil dengan alat pengambil
sample dan dimasukkan kedalam botol ukuran 100 ml dan diisi ¼ – 1/3 penuh.
Tutup botol tersebut dengan sumbat yang tidak berbau. Simpan dalam suhu rendah.
Sebelum diuji masukkan botol tersebut dalam penangas air (35-400C)
atau pembakar Bunsen sampai hangat. Sambil mengangkat tutup botol, uji bau
dapat dilakukan. Bedakan bau susu sebelum dipanaskan dengan susu yang sudah
dipanaskan. Pada Uji Kekentalanyaitu terlebih dahulu dilakukan dengan
memiringkan tabung reaksi, kemudian ditegakkan kembali. Perhatikan susu yang
membasahi dinding tabung. Menguji Rasa dari susu : dengan cara meneteskan
susu ketelapak tangan dan dicicipi. Bila
agak manis berarti susu tersebut normal (baik). Bila pahit berarti sudah
terjadi pembentukan peptone. Bila rasa sabun berarti terkena mastitis. Bila
rasa lobak berarti terkena kuman coli. Bila rasa pahit dan asin berarti
kolostrum.
Pada Pengukuran Ph dengan pHmeter air
susu diberkan dua perlakuan. Pertama, 100 ml susu + 2 tetes alcohol 68%, dan
yang kedua 50 ml susu + 50 ml air setelah dicampur secara omogeny, kemudian Ph
susu diukur menggunakan pHmeter digital.
Pada Uji Kebersihan dengan Metoda Saring terlebih
dahulu homogenkan 500 ml sample susu. Tuangkan sample susu secara perlahan –
lahan melalui dinding corong, pada mulut corong telah terpasang kertas saring.Susu ditampung dalam tabung Erlenmeyer. Setelah kertas
saring dilepaskan, amati kotoran yang tertinggal dikertas saring tersebut.
Kotoran dapat berupa bulu, potongan rambut, pasir, feces dan lain-lain. Untuk
lebih jelas, masukkan kertas saring dalam incubator atau lemariagar kering.
Periksalah kotoran yang tampak pada kertas saring dan nilailah banyaknya
kotoran dan jenis kotoran yang tampak.
Pada Uji Alcohol yaitu
terlebih dahulu masing-masing Tabung reaksi diisi 3 ml air susu, pada tabung 1
ditambahkan 3 ml alcohol 68 %,tabung 2 ditambahkan 70 %, tabung 3 ditambahkan 3
ml alcohol 75 %, tabung 4 ditambahkan 3 ml 96 %. Masing-masing tabung dikocok
dan diamati. Bila susu pecah maka susu tersebut asam dan hasil uji positif.
Sedangkan bila susu tidak pecah dan tetap omogeny, hasil uji dinyatakan
negative dan susu normal (baik).
Pada Uji Didih / Uji Masak yaitu
terlebih dahulu masukkan 5 ml susu kedalam tabung reaksi dan panaskan sampai
mendidih, bila terdapat butiran dan susu tidak omogeny berarti susu pecah (susu
rusak) dan hasil uji positif, bila susu tetap omogeny berarti susu masih baik
dan hasil uji negative.
Pada Uji Reduktase dengan Biru Metilen yaitu
terlebih dahulu masukkan 1 ml larutan biru metilen kedalam tabung reduktase,
tambahkan sample susu sampai batas lingkaran. Tutup tabung tersebut dengan
sumbat, lalu campurkan sehingga warna biru merata. Masukkan tabung kedalam
penangas air selama 4-4,5 jam,penangas air selama 5 menit untuk menghangatkan,
kemudian dimasukkan kedalam incubator. Reaksi ditunggu sampai seluruh warna
biru hilang.
PEMERIKSAAN KOMPOSISI SUSU
Adapun cara kerja yang dilakukan
pada pengukuran Berat Jenis yaitu
terlebih dahulu sample susu dihomogenkan dengan cara memindahkan dari satu
erlemeyer ke erlemeyer yang lain berulang-ulang. Secara hati-hati sample susu
dituangkan kedalam gelas ukur melalui dindingnya agar tidak berbentuk buih.
Laktodensimeter dicelupkan kedalam sample susu secara perlahan-lahan, biarkan
timbul dan tunggu sampai laktodensimeter berhenti bergerak selama 1 menit. Baca
skala yang tertera. Setelah pembacaan selesai, catat suhu temperature
laktodensimeter dan ukur suhu sample susu dengan thermometer.Ulangi sebanyak 2-3 kali. Angka
yang diperoleh di rata-ratakan. Skala yang dibaca pada laktodensimeter
menunjukkan decimal 2 dan 3. Decimal ke-4 dikira-kirakan. Contoh : skala 27
berart BJ = 1,0270, skala 2,35 berarti BJ = 1,0235. Suhu sampel susu harus
diantara 20-30˚C, kemudian disesuaikan dengan susu 27,5˚C.
Pada pengukuran Kadar Bahan
Kering yaitu terlebih dahulu keringkan cawan dan tutpnya dalam
oven selama 10 menit. Setelah itu, masukkan cawan kedalam eksikator sampai
suhunya sama dengan susu kamar. Timbang cawan beserta tutupnya. Masukkan 3 ml
sample susu kedalam cawan. Timbang kembali cawan yang berisi sample beserta tututpnya.
Masukkan cawan kedalam oven dan letakkan tutup cawan disampimg cawan. Biarkan
selama 1 jam, setelah itu keluarkan dari oven dam masukkan cawan yang telah
ditutup kembali eksikator. Setelah cawan dingin,timbanglah cawan beserta
tutupnya. Masukkan kembali cawan kedalam oven, keringkan selama 1 jam, setelah
itu masukkan kembali kedalam eksikator sampai dingin.timbang kembali cawan
tersebut. Lakukan prosedur sampai tercapai berat konstan.
Pada pengukuran Kadar Lemak
dengan Metode Gerber yaitu terlebih dahulu masukkan 10 ml H2SO4 pekat
kedalam butyrometer. Melalui dinding butryrometer, masukkan 10,75 ml sample
susu secara hati-hati dan 1 ml amil alcohol. Butyrometer disumbat sampai
rapat,kemudian dikocok dengan arah angka delapan selama 3-5 menit agar
bagian-bagian didalamnya tercampur rata. Setelah terbentuk warna ungu tua
sampai kecoklatan, masukkan butyrometer kedalam sentrifus dan pasang sentrifus
pada 1200 rpm selama 5 menit. Kemudian masukkan butyrometer didalam penangas
air adalah bagian yang ada sumbatnya dibawah dan bagian yang ada skalanya
diatas. Baca skala yang tertera pada butyrometer.
Pada pengukuran Kadar Bahan Kering Tanpa Lemak
(BKTL), persentase BKTL dapat dihitung menggunakan rumus
Herz-Henkel, yaitu:
Keterangan:
BKTL = Bahan Kering Tanpa Lemak
KL =
Kadar Lemak
Ld20 = Skala
Laktodensimeter pada 20˚C
0,48 =
Konstanta jika Berat Jenis diukur pada suhu 20˚C. Jika Berat Jenis diukur pada
sampel yang dipanaskan 40˚C, maka konstanta yang digunakan 0,63.
Atau:
Pada pengukuran Kadar Protein Metode Titrasi
Formol yaitu
terlebih dahulu masukkan 10 ml susu kedalam erlemeyer 125 ml dan tambahkan 20
ml aquades serta 0,4 ml larutan kalium oksalat jenuh dan 1 ml phenolphtalin 2%
lalu diamkan selama 2 menit. Kemudian titrasi campuran tersebut dengan NaOH 0,1
N sampai mencapai warna standar atau warna merah muda. Warna standar: 10 ml
susu + 10 ml aquades + 0,4 ml kalium oksalat jenuh + 1 tetes indicator
rosanilin klorida. Setelah warna tercapai tambahkan 2 ml larutan formalin dan
titrasi kembali dengan NaOH sampai warna standar tercapai lagi. Buatlah titrasi
blanko yang terdiri dari 20 ml aquades + 0,4 ml larutan kalium oksalat jenuh +
1 ml indicator phenolpthalin + 2 ml larutan formalin dan titrasi dengan larutan
NaOH.
PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGI
SUSU
Adapun cara kerja
pada perhitungan mikroba secara tidak langsung dengan metoda hitung
cawan salah satunya Pada metode tuang yaitu terlebih dahulu beri
label pada botol atau tabung reaksi yang berisi larutan pengencar dan cawan
Petri. Lakukan pengenceran sample secara omogen. Ambil sample 0,1 ml dan
masukkan kedalam cawan Petri. Tuangkan media agar cair sebanyak 12-15 ml untuk
setiap cawan Petri. Selama penuangan media tutup cawan tidak boleh dibuka
terlalu lebar. Setelah penungan media agar cair, goyangkan cawan membentuk
angka 8 diatas meja untuk menyebarkan sel mikroba. Biarkan sampai media agar
memadat. Setelah agar memadat,masukkan cawan Petri kedalam incubator dengan
posisi terbalik selama 24-36 jam pada suhu 30-320C. hitung jumlah
koloni yang terdapat pada agar dan laporkan sebagai jumlah koloni per ml.
Pada metode sebar /
permukaan yaitu terlebih dahulu Tuangkan 15 ml agar cair kedalam cawan
Petri dan biarkan memadat. Pipet sample yang sudah diencerkan 0,1 ml dan
tuangkan diatas agar yang sudah memadat. Sebarkan larutan sample keseluruh
permukaan adar dengan menggunakan ose bengkok. Biarkan sampel homogeny selama
15 menit, kemudian cawan Petri dibalik dan diikubasi selama 24-48 jam pada suhu
30-320C. lakukan perhitungan koloni yang terdapat dalam agar.
PEMERIKSAAN PEMALSUAN SUSU
Adapun cara kerja pada pembuktian Penambahan air kedalam susudilakukan
melalui pengukuran berat jenis.berat jenis normal susu berkisar antara
1,0280-1,032, dengan penambahan air atau whey, maka berat jenis akan turun.
Pada pembuktian Penambahan
Santan secara Mikroskopik : bersihkan sebuah gelas objek.
Teteskan 1 tetes susu dan tutup dengan gelas penutup, hindari
terbentuknya gelembung udara. Lihat dibawah mikroskop dengan pembesaran obkektif
10x45x, tampak butir-butir lemak susu omogeny, sedangkan butir-butir lemak
nabati lebih besar dari butir lemak susu.
Pada pembuktian Penambahan Pati :
masukkan 10 ml sample susu kedalam tabung reaksi,tambahkan 0,5 ml asam acetate.
Panaskan tabung dan kemudian sample susu disaring. Kedalam filtrate teteska 4
tetes lugol. Apabila positif mengandung pati, maka warna feltrate menjadi biru.
Bila bewrna kuning artinya negative,apabila warna hijau reaksi diragukan.
Pada pembuktian Penambahan Susu
Masak dengan uji Storch: masukkan 5 ml sample susu kedalam tabung
reaksi, tambahkan 2 tetes larutan paraphenildiamin 2 %. Tambahkan 1-4 tetes
larutan hydrogen peroksida. Susu mentah dan susu yang belum mengalami pemanasan
berubah warnanya menjadi biru. Susu yang dipanaskan pada 77-800C
tetap berwarna putih.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Anatomi Alat Pencernaan
Ruminansia merupakan binatang
berkuku genap subordo dari ordoArtiodactyla disebut juga mammalia
berkuku. Nama ruminan berasal dari bahasa Latin "ruminare" yang
artinya mengunyah kembali atau memamah biak, sehingga dalam bahasa Indonesia
dikenal dengan hewan memamah biak.
Sistem pencernaan (tractus
digestivus) ruminansia terdiri atas suatu saluran muskulo membranosa yang
terentang dari mulut sampai ke anus. Fungsinya adalah memasukan makanan,
menggiling, mencerna dan menyerap makanan serta mengeluarkan buangannya yang
berbentuk padat. Sistem pencernaan mengubah zat-zat hara yang terdapat dalam
makanan menjadi senyawa yang lebih sederhana hingga dapat diserap dan digunakan
sebagai energi, membangun senyawa-senyawa lain untuk kepentingan metabolisme.
Pencernaan merupakan rangkaian proses yang terjadi dalam saluran pencernaan
sampai memungkinkan terjadinya penyerapan.
Sistem Pencernaan Ternak
Kambing
(Sarwono, 2003) Kambing merupakan
binatang memamah biak yang berukuran sedang. Ternak kambing (Capra
aegagrus hircus) adalah subspesies kambing liar yang secara alami tersebar di Asia Barat Daya (daerah "bulan sabit yang subur" dan
Turki) Eropa. Kambing liar jantan maupun betina memiliki tanduk sepasang, namun tanduk pada
kambing jantan lebih besar.
Ternak kambing berbeda dengan
ternak mamalia lainnya karena mempunyai lambung sejati yaitu abomasum dan
lambung depan yang membesar yang mempunyai tiga ruangan yaitu reticulum, rumen,
dan omasum ( Blakely, 2001). Hal ini juga berkaitan dengan pernyataan
bahwa Saluran pencernaan ruminansia terdiri dari rongga mulut (oral),
kerongkongan (oesophagus), proventrikulus (pars
glandularis), yang terdiri dari rumen, retikulum, dan omasum;
ventrikulus (pars muscularis) yakni abomasum, usus
halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum crassum),
sekum (coecum), kolon, dan anus. Lambung sapi sangat besar, yakni ¾ dari
isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan
sementara yang akan dikunyah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung
juga terjadi pembusukan dan peragian (Arora, 2005). Berikut gambar anatomi
pencernaan kambing (ruminansia kecil)
Gambar 1. anatomi pencernaan
kambing (ruminansia kecil)
Sebagian besar bahan pakan mengandung
campuran nutrient yang terdiri atas protein, lemak, karbohidrat, mineral,
vitamin dan air. Zat–zat gizi organik ini terdapat dalam bentuk yang tidak
larut sehingga harus dipecah menjadi senyawa–senyawa kecil sebelum mereka dapat
masuk melalui dinding saluran pencernaan untuk kemudian diedarkan kedalam darah
atau saluranlimfe. Berdasarkan perubahan yang terjadi pada bahan pakan
di dalam alat pencernaan, proses pencernaan ternak ruminansia dapat dibagi
menjadi tiga, yaitu pencernaan mekanik, hidrolik dan fermentative.
Proses pencernaanfermentative inilah yang merupakan proses khas
yang terjadi dalam saluran pencernaan ruminansia yang membedakannya dengan
proses pencernaan pada non ruminansia (Sarwono, 2003).
Pencernaan adalah proses
perubahan senyawa–senyawa tertentu menjadi senyawa lain yang sama sekali
berbeda dengan molekul zat makanannya. Proses pencernaan berupa fermentasi yang
terjadi sebelum usus halus pada ternak ruminansia mendatangkan keuntungan dan
kerugian Keuntungan yang diperoleh dengan terjadinya fermentasi sebelum usus
halus antara lain produk fermentasi mudah diserap usus, dapat mencerna selulosa
dan dapat menggunakan non–protein nitrogen seperti urea. Kerugian yang
dialami antara lain banyak energi yang terbuang sebagai gas methan dan panas,
protein bernilai hayati tinggi mengalami degradasi menjadi NH3 (amonia)
sehingga terjadi penurunan nilai protein, ternak ruminansia peka terhadap
ketosis atau keracunan asam.
Proses pencernaan fermentative
ini tidak lepas dari peranan mikroba rumen. Mikroba rumen akan mencerna
karbohidrat, protein, dan lemak menjadi asam lemak atsiri VFA (Volaltyl
Fatty Acid), NH3 (amonia), gas karbondioksida (CO2) dan gas
methan (CH4). Amonia digunakan untuk membangun sel mikroba, VFA (Volatyl
Fatty Acid) akan diserap langsung dalam rumen dan retrikulum untuk
dimanfaatkan oleh ternak sebagai sumber energy, gas methan dan oksigen
dikeluarkan melalui proses eruktasi ( Blakely,2001 ).
Berikut gambaran proses
pencernaan baik kimiawi maupun mekanis dan bagaimana ternak memanfaatkan bahan
makanan berserat kasar tinggi, perlu diketahui dahulu sistem pencernaan serta
fungsi bagian-bagian dari alat pencernaan tersebut, khususnya rumen, retikulum,
omasum dan abomasum.
Berikut adalah gambar perut
ternak ruminansia :
Gambar 2. perut ternak
ruminansia
Saluran Pencernaan:
1. Mulut
2. Esofagus
3. Lambung:
Rumen, Retikulum, Omasum, Abomasum
4. Usus
halus
5. Usus
Besar (Kolon)
6. Rektum
MULUT
Pencernaan di mulut pertama kali
di lakukan oleh gigi molar dilanjutkan oleh mastikasi dan di teruskan ke
pencernaan mekanis. Di dalam mulut terdapat saliva. Saliva adalah cairan
kompleks yang diproduksi oleh kelenjar khusus dan disebarkan ke dalam cavitas
oral.
Komposisi saliva:
Komposisi dari saliva meliputi
komponen organik dan anorganik. Namun demikian, kadar tersebut masih terhitung
rendah dibandingkan dengan serum karena pada saliva penyusun utamanya adalah
air. Komponen anorganik terbanyak adalah sodium, potassium (sebagai kation),
khlorida, dan bikarbonat (sebagai anion-nya). Sedangkan komponen organik pada
saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase, maltase, serum albumin, asam
urat, kretinin, mucin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim, laktat, dan
beberapa hormon seperti testosteron dan kortisol. Selain itu, saliva juga
mengandung gas CO2, O2, dan N2. Saliva juga mengandung immunoglobin, seperti
IgA dan IgG dengan konsentrasi rata-rata 9,4 dan 0,32 mg%.
Fungsi saliva,membantu penelanan,buffer (ph 8,4 – 8,5)
dan suplai nutrien mikroba (70% urea).
Mekanisme sekresi saliva
Kelenjar saliva mensekresikan
granula sekretorik (zymogen) yang mengandung enzim-enzim saliva kemudian
dikeluarkan dari sel-sel asinar ke dalam duktus. Jumlah sekresi salisa
berbeda-beda, sekresi saliva pada sapi ±150 liter/hari, domba ±10 liter/hari.
Organ yang berfungsi mencerna makanan secara mekanik pada ruminansia adalah
gigi (dentis).
ESOPHAGUS
Merupakan saluran yang menghubungkan antara rongga mulut dengan lambung. Pada
ujung saluran esophagus setelah mulut terdapat daerah yang disebut faring. Pada
faring terdapat klep, yaitu epiglotis yang mengatur makanan agar tidak masuk ke
trakea (tenggorokan). Fungsi esophagus adalah menyalurkan makanan ke lambung.
Agar makanan dapat berjalan sepanjang esophagus, terdapat gerakan peristaltik
sehingga makanan dapat berjalan menuju lambung.
RUMEN
Bagian sistem pancernaan
ruminansia yang paling berperan besar adalah rumen. Rumen berupa suatu kantung
muskular yang besar yang terentang dari diafragma menuju pelvis dan hampir
menempati sisi kiri dari rongga abdominal. Di dalam rumen terdapat populasi
mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Mikroba rumen dapat dibagi dalam tiga grup
utama yaitu bakteri, protozoa dan fungi. Kehadiran fungi di dalam rumen diakui
sangat bermanfaat bagi pencernaan pakan serat, karena dia membentuk koloni pada
jaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding sel tanaman
sehingga pakan lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen.
Bakteri rumen dapat diklasifikasikan
berdasarkan substrat utama yang digunakan, karena sulit mengklasifikasikan
berdasarkan morfologinya. Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan
morfologinya sebab mudah dilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa
jenis bakteri adalah:(a) bakteri pencerna selulosa (Bakteroidessuccinogenes,
Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus, Butyrifibriofibrisolvens), (b)
bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio fibrisolvens, Bakteroides
ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati (Bakteroides
ammylophilus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica, (d) bakteri
pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri
pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis).
Protozoa rumen diklasifikasikan
menurut morfologinya yaitu:Holotrichsyang mempunyai silia hampir diseluruh
tubuhnya dan mencerna karbohidrat yang fermentabel,
sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulut umumnya
merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna.
Jumlah bakteri rumen mencapai 1010-11. Jumlah
protozoa mencapai 105-6. Fungi berjumlah 102-3. Di
rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh
enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa
tertentu. Isi rumen dan retikulum cenderung membentuk tiga lapisan.
Lapisan yang paling bawah (paling ventral) terdiri terutama dari cairan yang
berisi bahan-bahan yang setengah tercerna, termasuk biji-bijian. Lapis tengah
adalah partikel - partikel makanan paling akhir masuk ke dalam rumen dan belum
tercelup sepenuhnya. Lapis yang paling dorsal terutama terdiri dari gas
karbondioksida dan metan, yang diproduksi terus menerus oleh mikroba.
Kapasitas rumen pada ternak
ruminansia dewasa mencapai 80% dari total kapasitas perut ruminansia, sedangkan
pada ternak ruminansia baru lahir perkembangan rumen belum sempurna
kapasitasnya sekitar 30%. Oleh sebab itu pada anak ternak ruminansia yang baru
lahir belum diberikan pakan yang berserat karena masih belum ada pencernaan
fermentatif dan mikroba rumen belum tumbuh. Pencernaan pada ternak ruminansia
yang baru lahir hanya berupa pencernaan enzimatik. Namun setelah ternak
tersebut berumur dua bulan ukuran rumen sudah baik dan mikroba rumen sudah
dalam jumlah yang cukup untuk mencerna bahan berserat. Mikroba pada rumen
merupakan mikroba yang berasal dari susu yang diberikan induk saat masa
menyusui maupun mikroba yang berasal dari bahan lain.
Gambar 3. Rumen
Jumlah mikroba rumen terbesar
adalah bakteri. Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan aktifitas
populasi mikroba rumen adalah temperatur, pH, kapasitas buffer, tekanan
osmotik, kandungan bahan kering dan potensial oksidasi reduksi cairan rumen.
Adanya bakteri dan protozoa yang hidup dalam rumen menyebabkan ruminansia dapat
mencerna bahan pakan yang mengandung serat kasar tinggi. Menurut (Bali,
2011) Mikroba dalam rumen juga mampu mensintesis asam amino dari non protein
nitrogen sumber, seperti urea dan amoniak. Seperti mikroba mereproduksi dalam
rumen, generasi tua mati dan sel-sel mereka melanjutkan melalui saluran
pencernaan. Sel-sel ini kemudian sebagian dicerna oleh ternak, yang
memungkinkan mereka untuk mendapatkan sumber protein berkualitas
tinggi. Fitur-fitur ini memungkinkan ternak untuk berkembang pada rumput dan vegetasi lainnya.
RETIKULUM
Retikulum sering disebut sebagai
perut jala atau hardware stomach. Fungsi retikulum adalah sebagai
penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen. Retikulum berbatasan
langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding
penyekat. Pembatas diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan,
sehingga partikel pakan menjadi tercampur.
Fungsi:Tempat fermentasi,membantu proses ruminasi,mengatur
arus ingesta ke omasum,Absorpsi hasil fermentasi dan tempat berkumpulnya
benda-benda asing.
Gambar 4. Retikulum
Rumen dan reticulum sering
dipandang sebagai organ tunggal disebut sebagai retikulorumen yang
merupakan tempat terjadinya pencernaanfermentative. Retikulum ini
mendorong pakan padat dan ingesta ke dalam rumen dan
mengalirkan ingesta kedalam omasum. Retikulum membantu
ruminasi dimana bolus diregurgitasikan ke dalam mulut. Ingesta yang
telah halus didorong ke dalam rumen untuk dicerna lebih lanjut oleh mikroba.
Mikroorganisme yang terdapat dalam rumen adalah bakteri, protozoa dan fungi (
Biologigonz, 2010 ).
OMASUM
Omasum sering juga disebut dengan
perut buku, karena permukaannya berbuku-buku. Ph omasum berkisar antara 5,2
sampai 6,5. Omasum merupaka suatu organ seferis yang terisi oleh lamina
muskuler yang turun dari bagian dorsum atau bagian atap. Membrana mukosa yang
menutupi lamina, ditebari dengan papile yang pendek dan tumpul yang akan
menggiling hijauan atau serat - serat sebelum masuk ke abomasum (perut sejati).
Omasum letaknya disebelah kanan rumen dan retikulum persis pada posisi kaudal
hati. Omasum domba dan kambing jauh lebih kecil dibandingkan omasum sapi dalam
keadaan normal tidak menyentuh dinding abdominal ruminansia kecil itu.
Dasar omasum seperti juga halnya
lembaran - lembaran (lipatan - lipatan) ditutupi oleh epitel squamosa
berstrata. Pada pertautan antara omasum dan abomasum terdapat suatu susunan
lipatan membrana mukosa ‘vela terminalia’ yang barang kali berperan sebagai
katup untuk mencegah kembalinya bahan-bahan dari abomasum menuju ke omasum,
sedangkan pada domba merupakan bagian dari abomasum. Omasum merupakan bagian
ketiga lambung ternak kambing yang menghubungkan retikulorumen danabomasums.
Gambar.5
Omasum
ABOMASUM
Abomasum
sering juga disebut dengan perut sejati. Fungsi omaso abomasal orifice adalah
untuk mencegah digesta yang ada di abomasum kembali ke omasum. Pernyataan ini
sesuai dengan ( Blakely,2001 ), bahwa Abomasum merupakan bagian keempat yang
disebut juga perut sejati. Dengan demikian ternak ruminansia dapat memanfaatkan
pakan berserat kasar tinggi serta mampu mengolahnya menjadi produk dengan nilai
biologis tinggi.
Ph pada abomasum asam yaitu berkisar antara 2 sampai
4,1. Abomasum terletak dibagian kanan bawah dan jika kondisi tiba-tiba menjadi
sangat asam, maka abomasum dapat berpindah kesebelah kiri. Permukaan abomasum
dilapisi oleh mukosa dan mukosa ini berfungsi untuk melindungi dinding sel
tercerna oleh enzim yang dihasilkan oleh abomasum. Sel-sel mukosa menghasilkan
pepsinogen dan sel parietal menghasilkan HCl. Pepsinogen bereaksi dengan HCl
membentuk pepsin. Pada saat terbentuk pepsin reaksi terus berjalan secara
otokatalitik.
Fungsi: Tempat awal pencernaan enzimatis (perut
sejati) → Pencernaan protein dan mengatur arus digesta dari abomasum ke
duodenum.
Gambar 6. Abomasum
USUS HALUS (INTESTINUM
TENUE)
Fungsi : pencernaan enzimatis dan absorpsi
Kedalam usus halus masuk 4 sekresi:
a. Cairan
duodenum : alkalis, fosfor, buffer
b. Cairan
empedu : dihasilkan hati, K dan Na (mengemulsikan
lemak), mengaktifkan lipase pankreas, zat warna
c. Cairan
pancreas : ion bikarbinat untuk menetralisir asam lambung
d. Cairan
usus
Usus halus terbagi atas 3 bagian, yaitu: deudenum, jejenum, dan ileum,
berdasarkan pada perbedaan - perbedaan struktural histologis/mikroskopis.
Deudenum
merupakan bagian yang pertama dari usus halus. Ini amat dekat dengan dinding
tubuh dan terikat pada mesenteri yang pendek, yaitu mesoduodenum. Duktus yang
berasal dari pankreas dan hati masuk ke bagian pertama dari duodenum. Duodenum
meninggalkan pilorus dari perut dan ke arah kaudal pada sisi kanan menuju ke
‘pelvic inlet’. Duodenum kemudian menjulang ke sisi kiri di belakang akar dari
mesenteri besar dan membelok ke depan untuk bergabung dengan jejunum. Saluran
yang berasal dari hati dan saluran pankreas, menyatu ke dalam duodenum, pada
jarak yang pendek di belakang pilorus.
Jejenum dengan jelas dapat dipisahkan dengan duodenum. Jejenum bermula dari
kira-kira pada posisi dimana mesenteri mulai kelihatan memanjang (pada duodenum
mesenterinya pendek). Jejenum dan ileum itu bersambung dan tidak ada batas yang
jelas di antaranya. Bagian terakhir dari usus halus adalah ileum.
Persambungannya dengan usus besar adalah pada osteum iliale (bukaan ileal).
Gambar.7
Usus Halus
SEKUM DAN KOLON
Usus besar terdiri atas sekum, yang merupakan
suatu kantung buntu dan kolon yang terdiri atas bagian-bagian yang naik,
mendatar dan turun. Bagian yang turun akan berakhir direktum dan anus. Variasi
pada usus besar (terutama pada bagian kolon yang naik) dari satu spesies ke
spesies yang lain, jauh lebih menonjol dibandingkan dengan pada usus halus.
Kolon yang menurun, bergerak ke depan di antara dua lapis mesenteri yang
menyangga usus halus. Lop proksimal (ansa proksimalis) terletak di antara sekum
dan kolon spiral (ansa spiralis). Ansa spiralis itu tersusun dalam bentuk
spiral. Bagian yang pertama membentuk spiral ke arah pusat lilitan (bersifat
sentripetal) sedangkan bagian berikutnya membentuk spiral yang menjauhi pusat
lilitan (sentrifugal). Bagian terakhir dari kolon yang naik yaitu ansa
distalis, menghubungkan ansa spiralis dengan kolon transversal. Kolon
transversal menyilang dari kanan ke kiri dan berlanjut terus ke arah kaudal
menuju ke rektum dan anus, bagian terminal dari saluran pencernaan.
Menurut (Dudee. 2009) Walaupun
memiliki caecum yang besar, kambing ternyata tidak mampu
mencerna bahan-bahan organik dan serat kasar dari hijauan sebanyak yang dapat
dicerna oleh ternak ruminansia murni. Daya cerna kambing dalam mengonsumsi
hijauan daun mungkin hanya 10%. Di alam, kambing liar dapat memenuhi
kebutuhannya sendiri dengan jenis pakan yang di kehendaki. Jumlah pakan minimal
dan ragam pakan dapat terpenuhi sehingga terjadi keseimbangan dalam
pertumbuhan, kesehatan dan perkembangbiakannya. Kalau kebutuhan itu tidak
tercapai, dengan sendirinya kambing berangsur-angsur gugur menghadapi seleksi
alam.
RECTUM
Merupakan lubang tempat
pembuangan feses dari tubuh. Sebelum dibuang lewat anus, feses ditampung
terlebih dahulu pada bagian rectum. Apabila feses sudah siap dibuang maka otot
spinkter rectum mengatur pembukaan dan penutupan anus. Otot spinkter yang
menyusun rektum ada 2, yaitu otot polos dan otot lurik.
4.2 Pemeriksaan
Kesegaran Air Susu
Uji
Sensorik atau Uji Organoleptik
Setelah dilakukan pengamatan
terhadap air susu sapi, maka dalam proses uji sensorik ataupun uji organoleptik
susu, maka untuk pengamatan terhadap warna, bau, kekentalan, dan rasa susu
tersebut adalah normal. Tetapi kadar pengujian secara umum terhadap susu
tersebut oleh ke-4 parameternya , maka total kenormalan diatas adalah sekitar
35 % untuk kualitas susu tersebut untuk dikonsumsi. Menurut Devendra (2007), yang menyatakan
bahwa Susu segar adalah susu yang tidak dikurangi atau ditambahkan apapun yang diperoleh
dari pemerahan sapi yang sehat secara kontiniyu dan sekaligus yang secara
sempurna.Pada suhu yang lebih rendah, masa simpan susu akan menjadi lebih
panjang dan bila menunjukkan suhu 25oC, maka kesegaran susu dapat
mencapai 11-12 jam untuk durasi pemanfaatannya.
Tabel
1.Uji Sensorik atau Uji Organoleptik
|
KELOMPOK
|
UJI
WARNA
|
UJI
BAU
|
UJI
KEKENTALAN
|
UJI
RASA
|
|
5
|
NORMAL
|
NORMAL
|
ENCER
|
NORMAL
|
|
6
|
NORMAL
|
NORMAL
|
ENCER
|
NORMAL
|
|
7
|
NORMAL
|
NORMAL
|
ENCER
|
NORMAL
|
|
8
|
NORMAL
|
NORMAL
|
ENCER
|
NORMAL
|
a. Uji
Warna
Setelah diamati larutan susu yang
berada dalam tabung reaksi, maka terlihat susu tersebut berwarna putih susu,
yang artinya susu tersebut adalah normal
(baik),keadaan susu ini terjadi di semua kelompok. Putih susu yang dimaksud adalah susu berwarna putih
kekuning-kuningan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Aak (2006) yang menyatakan bahwa susu segar adalah susu
yang tidak dikurangi atau ditambah apapun, yang diperah oleh ari pemerahan sapi
yang sehat secara kontimue dan sekaligus sampai sempurna.Bahwa pendapat
ahli-ahli dahulu susu mempunyai ciri-ciri khas susu yang baik dan normal adalah
susu tersebut terdiri dari konversi warna kolostrum yang berwarna kuning dengan
warna air susu yaitu putih, jadi susu normal itu berwarna putih
kekuning-kuningan.
b. Uji bau
Setelah susu dipanaskan dalam
tabung reaksi, maka susu mengeluarkan aroma yang spesifik dimana bau susu yang
dipanaskan lebih tajam daripada susu yang tidak dipanaskan. Susu tersebut
berbau susu yang sebenarnya berarti susu tersebut adalah normal (baik) dan tidak ada
mengandung racun atau bahan lainnya. Spesifikasi bau susu yang tajam memenuhi
unsur pembagian komponen persentase susu dari 40 % untuk bau dan warna susu.
c. Uji
Kekentalan
Setelah tabung reaksi dimiringkan dan ditegakkan kembali, ternyata susu
tersebut tidak encer yang berarti tidak terjadi penambahan air ataupun
pengurangan lemak pada susu. Artinya untuk kekentalan susu yaitu normal. Terjadinya kenormalan
pada susu sudah jelas terlihat dikarenakan tidak ada penambahan
bahan-bahan lain terhadap susu tersebut.
d. Uji Rasa
Susu yang diteteskan ketelapak
tangan kemudian dicicipi, maka hasilnya ternyata susu agak manis berarti susu
tersebut normal (baik).
Susu agak manis diakibatkan karena kandungan karbohidratnya yang cukup tinggi,
khususnya untuk golongan laktosa. Robert. L. Diyert
(2007), menyatakan bahwa susu yang bagus dan layak dikonsumsi sedikit ada
rasa manisnya selain untuk rasa juga dapat meningkatkan selera untuk minum susu.
2. Uji
Kebersihan dengan Metode Saring
Setelah dilakukan pengamatan
terhadap susu, maka hasilnya adalah tidak
terdapat kotoran yang tampak pada
kertas saring hal ini karena susu
yang di ambil sudah di saring oleh peternaknya. Hal ini didukung oleh
pernyataan Ediwigato (2006),
yang menyatakan
bahwa tujuan penyaringan untuk memisahkan benda-benda asing seperti debu,
pasir, dan sebagainya dengan kertas saring yang bersih dan selera menjadi
tambeh, selain selera juga tidak ada menghambat yang menimbulkan pencernaan
terganggu dari pada kotoran tersebut.
Sudarmadji, dkk.
(2004) yang menyatakan bahwa penyaringan bertujuan untuk memisahkan suatu cairan
dari bahan padat yang terdapat pada cairan itu dengan cara menuang cairan pada
bahan penyaringan.
Maka, untuk
penilaian kotoran tersebut hasilnya adalah bernilai sedikit kotor. Pernyataan ini sesuai
dengan pendapat Aak, (2005) menyatakan bahwa penyarinagn perlu
dilakukan dengan segera guna menghindari agar jangan sampai jumlah mikroba yang
terdapat didalam air susu bertambah. Berikut adalah dokumentasi penyaringan
susu:
Gambar 8.Uji Saring
3. Pengukuran
pH dengan pHmeter
Pada puji pengukuran pH air susu
diberikan 2 perlakuan, yaitu:
- 100
ml susu + 2 tetes alcohol 68%, menghasilkan pH 6,77
- 50
ml susu + 50 ml air, menghasilkan pH 6,6
Pengukuran pH dilakukan dengan
menggunakan pHmeter digital.Karyadi (2009), menyatakan bahwa susu normal
memiliki pH 6.6-6.7 dan bila terjadi banyak pengasaman oelh bakteri nilai pH
akan menurun secara nyata. Bila hal ini dianggap sebagai tanda adanya mastitis
pada sapi karena penyakit ini menyebabkan perubahan mineral dalam air susu.
4. Uji
Alkohol
Setelah masing- masing tabung
reaksi dikocok dan ternyata hasilnya sebagai berikut:
Kadar pengamatan mutu susu yang diamati pada saat pengamatan dapat ditunjukkan
dalam tabel pengamatan, sebagai berikut :
Tabel 2. Uji Alkohol
|
SAMPEL
|
KETERANGAN
|
|
3
MLSUSU + 3 ML ALKOHOL 68%
|
NORMAL(UJI
NEGATIF)
|
|
3
MLSUSU + 3 ML ALKOHOL 70%
|
NORMAL(UJI
NEGATIF)
|
|
3
MLSUSU + 3 ML ALKOHOL 75%
|
NORMAL(UJI
NEGATIF)
|
|
3
MLSUSU + 3 ML ALKOHOL 96%
|
PECAH
(UJI POSITIF )
|
Perbedaan antara kadar % alkohol mempengaruhi endapan halus pada dinding tabung. Semakin kecil kadar alkohol, maka endapan halus pada dinding tabung semakin sedikit. Dan semakin besar kadar alcohol, maka endapan halus pada dinding tabung semakin banyak. Pada uji alcohol ini sanagt erat juga hubungannya dengan pemanasan pada sampel yang akan mempengaruhi tinggi atau tidaknya suhu pemanasan. Pernyataan ini sesui dengan pendapat (Amanalis, 2002), yang menyatakan bahwa pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme baik pembusuk maupun pathogen dan pemanasan yang singkat bertujuan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu tersebut.
Gambar 9 .Uji Alkohol
5. Uji
Didih atau Uji Masak
Pada pengamatan, susu yang dipanaskan dalam tabung reaksi menunjukkan hasil
bahwa pada sampel hasil pengamatan tidak terdapat butiran- butiran yang artinya
susu homogen. Dengan homogennya susu tersebut, berarti susu masih
baik (normal) dan hasil ujinya negatif. Jadi secara pemasakan ataupun
pendidihan, susu tersebut normal
(baik).
Gambar 10 .Uji Didih
6. Uji
Reduktase dengan Biru Metilen
Tabel
3.Uji Reduktase Dengan Biru Metilen
|
KELOMPOK
|
WAKTU REDUKSI
|
KUALITAS SUSU
|
|
5
|
Ø 2 JAM
|
BAIK
|
|
6
|
Ø 2 JAM
|
BAIK
|
|
7
|
Ø 2 JAM
|
BAIK
|
|
8
|
Ø 2 JAM
|
BAIK
|
Uji
reduktase ini digunakan untuk menilai mutu susu berdasarkan jumlah bakteri
dalam susu dan dengan bantuan enzim reduktase. Biru metilen akan berubah
menjadi warna putih. Enzim reduktase dalam susu terbagi atas 2 bagian yaitu:
berasal dari sel dan yang berasal dari bakteri. Sedangkan reduksi dari sel
dapat mereduksi biru metilen secara cepat dengan adanya formaldehida. Buckle, dkk (2007) menyatakan bahwa uji reduksi dapat menunjukan tingkat
kegiatan bakteri sehingga dapat memungkinkan diklasifikasikan susu sebagai susu
yang dapat diterima atau tidak untuk kegunaan tertentu. Gusriyanti.
(2006) menyatakan bahwa angkat reduktase adalah waktu yang
diperlukan untuk merubah zat warna biru metilen menjadi putih yang mana nilainya
secara kasar berbanding terbalik dengan jumlah organisme yang ada. Berikut ini adalah dokumentasi pada uji
pengamatan tehadap susu dengan uji reduktasi dengan menggunakan larutan biru
metilen:
4.3
Pemeriksaan Komposisi Air Susu
Susu
merupakan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi karena mengandung hampir
semua zat-zat yang diperlukan oleh tubuh. Zat-zat makanan yang terdapat dalam
susu adalah zat dengan proporsi yang seimbang. Susu sebagai bahan makanan dapat
diperoleh dari pemerahan yang baik yang berasal daripada ternak- ternak perah
yang umum, seperti: sapi, kambing, domba, kerbau, dan yang lainnya. Dalam susu
terdapat reaksi dan komponen dasar yang diperlukan dalam perkembangan dan
pemeliharaan organ dan jaringan tubuh makhluk hidup. Susu dengan kualitas 100 %
memenuhi unsur gizi yang seimbang dan tanpa ada sifat penambahan bahan- bahan
lain didalamnya (Addeding Maximum Matherial’s). Pernyatan ini sesui
dengan pendapat ( Devendra, 2007 ), yang menyatakan bahwa susu segar
adalah susu yang tidak dikurangi atau ditambahkan apapun yang diperoleh dari
pemerahan sapi yang sehat secara kontiniyu dan sekaligus yang secara sempurna.
Susu
mengandung komposisi zat makanan yang vital dan penting bagi pertumbuhan tubuh.
Komponen penyusun utama air susu adalah air, protein, lemak, karbohidrat,
mineral-mineral, dan vitamin-vitamin. Dalam 1 liter susu dapat menyediakan
kebutuhan manusia perharinya berupa: Ca 100%, P 67%, Vitamin B2 66%, Protein
49%, Vitamin Alan 30%, Vitamin B1 27%, Vitamin C 19%, dan Fe 3%, sedangkan
energinya kira-kira 20% untuk perharinya.
Pengukuran Berat Jenis (BJ)
Tabel 4.Pengukuran Berat Jenis
|
KELOMPOK
|
HASIL BERAT JENIS
|
|
1
|
1,0146
|
|
2
|
1,0128
|
|
3
|
1,0128
|
|
4
|
1,0208
|
|
5
|
1,0146
|
|
6
|
1,0218
|
|
7
|
1,0218
|
|
8
|
1,0116
|
Kita menggunakan Bobot jenis ditera
dengan suatu alat yang disebut laktodensimeter. Prinsip kerrja alat ini
berdasarkan hukum Archimedes yang menyatakan bahwa tiap benda yang
dimasukkan ke dalam zat cair, maka pada benda tersebut akan bekerja
tekanan ke atas yang sama dengan berat cairan yang dipindahkan oleh alat
tersebut. Swenson. F. (2004) menyatakan bahwa Berat jenis suatu bahan adalah
perbandingan antara berat bahan tesebut dengan berat air pada volume dan suhu
yang sama. Berat jenis rata-rata
1,032 atau berkisar antara 1,027-1,035. Prinsip dari pengujian berat jenis
yaitu benda padat yang dicelupkan ke dalam suatu cairan akan mendapatkan
tekanan ke atas seberat volume cairan yang dipindahkan.
Sample susu dihomogenkan dengan
cara memindahkan susu dari satu erlenmayer keerlenmayer lain berulang–ulang.
Kemudian sample susu dituangkan kadalam beker gelas dan barulah laktodensimeter
dicelupkan ke dalam sample susu dan biarkan selama 1 menit. Lalu dibaca
skalanya, pada berat jenis pertama Kemudian, berat jenis dua dan berat jenis
yang ketiga. Dapat dilihat dari penjelasan dibawah ini. Setelah dilakukan
pengamatan terhadap air susu sapi, maka dalam proses pengukurannya
diperoleh Berat Jenis (BJ) susu sapi sebesar 1,021.
Dari pengamatan diatas bahwa
hasil yang diperoleh pada berat jenis susu sapi sebesar 1,021 hal ini tidak
sesuai dengan pendapat Agus (2008), yang menyatakan jenis susu akan dipengaruhi oleh
susunan air itu sendiri, air susu yang baik atau normal memiliki berat jenis
1,028-1,033 pada temperatur 27,50C. sedangkan Amiransyah (2008) berpendapat
bahwa air susu yang baik atau normal memiliki Bs 1,027 – 1,031 pada temperatur
27,5o perbedaan BJ yang mencolok harus dikurangi.
Hal ini mungkin saja terjadi
karena BJ susu bisa saja dipengaruhi oleh factor-faktor lain yang menyebabkan BJ
susu menjadi tidak normal.Hadiwiyoto (2005), menyatakan bobot jenis
susu berubah tergantung lamanya susu dibiarkan, semakin dekat dengan saat
pemerahan maka bobot makin kecil, maka hasil didapatkan berat jenis susu masih
normal dan layak dipasarkan. Kita menggunakan alat yang canggih seperti yang
mana alat ini sering digunakan untuk mengukur berat jenis pada komposisi susu.
Gambar 11.Berat Jenis
Pengukuran Kadar Bahan Kering (BK)
Hasil yang didapat pada
pengamatan ini ialah :
Tabel 5. Pengukuran BK Susu
|
KELOMPOK
|
G.1
|
G.2
|
G.3.1
|
G.3.2
|
G3
|
%
|
|
1
|
11,10
|
12,81
|
11,32
|
11,31
|
11,315
|
12,573
|
|
2
|
12,36
|
14,39
|
12,63
|
12,61
|
12,62
|
12,808
|
|
3
|
12,37
|
14,19
|
12,61
|
12,56
|
12,585
|
11,813
|
|
4
|
12,20
|
13,60
|
12,40
|
12,38
|
12,39
|
13,571
|
|
5
|
12,02
|
13,77
|
12,36
|
12,34
|
12,35
|
18,857
|
|
6
|
13,29
|
15,18
|
13,63
|
13,58
|
13,605
|
16,667
|
|
7
|
12,44
|
14,29
|
12,68
|
12,67
|
12,675
|
12,703
|
|
8
|
13,37
|
15,01
|
13,59
|
13,58
|
13,585
|
13,11
|
Jadi, nilai bahan kering yang
diperoleh dari pengamatannya adalah untuk cawan 1 berbeda dengan cawan 2. Nilai
BK ini menunjukkan untuk beda pengukuran ulangnya jauh berbeda. Hal ini mungkin
dipengaruhi suhu yang sesaat yang mempengaruhi pada saat preparasi sampel.
Pernyataan ini sesuai dengan
pendapat ( Mozes, 2008 ), yang menyatakan bahwa pengeringan susu pada suhu
yang tertentu mengarah langsung pada suhu pengeringan yang tidak stabil,
sehingga akan menyebabkan kadar bahan kering susu tersebut nilainya tidak
konstan.
Dari hasil
pengamatan diatas bahwa Menurut Bambang (2008), bahwa bahan kering adalah sisa
makanan sesudah diuapkan airnya . Dan menurut Raguarti (2010) bahwa kadar
bahan kering pada susu adalah 12,10% berarti kadar bahan kering hasil
diatas masih memenuhi syarat kualitas susu.
Gambar 12.Kadar Bahan Kering
4.4 PEMERIKSAAN
MIKROBIOLOGI SUSU
Praktikum mikrobiologi ini bertujuan
untuk mengetahui bagaimana mutu susu segar yang baik, Gusriyanti,
(2006) yang menyatakan bahwa Mutu susu segar juga harus didukung oleh cara
pemerahan yang benar termasuk didalamnya adalah pencegahan kontaminasi fisik
dan mikrobiologis dengan sanitasi alat pemerahan dan sanitasi pekerja. Untuk
dapat mengetahui mikroba yang terdapat didalam susu, dibutuhkan media yang
steril. Fendrikus (2004), mengatakan bahwa Pada penanaman bakteri
dibutuhkan kondisi aseptis atau steril, baik pada alat maupun proses, untuk
menghindari kontaminasi, yaitu masuknya mikrobia yang tidak diinginkan.
Dalam praktikum pemeriksaan
mikrobiologi susu secara tidak langsung dengan metode hitungan cawan meliputi
dua cara, yaitu dengan metode tuang dan metode sebar/permukaan. Hal ini sesuai
pendapat Fardiaz, (2003). yang menyatakan bahwa Prinsip dari metode
hitungan cawan adalah menumbuhkan sel mikrobia yang masih hidup pada metode
agar, sehingga sel mikrobia tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni
yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop Metode
hitungan cawan dapat dibedakan atas dua cara yaitu : Metode tuang (pour plate),
Metode permukaan (surface / spread plate). Farmansyah
(2003) mengatakan bahwa Metode hitungan cawan juga mempunyai kelemahan,
yaitu: Hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel mikroba yang sebenarnya,
karena beberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni, Medium dan
kondisi yang berbeda mungkin menghasilkan niali yang berbeda, Mikroba yang
ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang
kompak dan jelas, tidak menyebar, Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi
beberapa hari sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung.
Setelah dilaksanakan praktikum
dan perhitungan mikroba dengan metode tuang diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel .6
Penghitungan Mikroba
|
KELOMPOK
|
FAKTOR PENGENCER
|
JUMLAH MIKROBA
|
|
1-2
|
10-1
|
176
|
|
3-4
|
10-1
|
114
|
|
5-6
|
10-1
|
106
|
|
7-8
|
10-1
|
116
|
Tomasiewicz (2006) yang
menyimpulkan bahwa kisaran hitung untuk plate count dengan ulangan 3 kali
(triplicate) yaitu 25-250 koloni/cawan. Kesimpulan ini didapat dari data
analisa susu (raw milk) pada tiga eksperimen yang berbeda. Hal ini sependapat
dengan Breed dan Dotterrer pada tahun (2006) yang mengatakan bahwa
kisaran hitung yang normal adalah selitar 25-250 koloni/cawan. Sedangkan
menurut Waluyo, (2004) menyatakan bahwa dimana jumlah terbaik adalah antara 30 sampai 300 sel
mikrobia per ml, per gr, atau per cm permukaan (Fardiaz, 1993). Prinsip
pengenceran adalah menurunkan jumlah sehingga semakin banyak jumlah pengenceran
yang dilakukan, makin sedikit sedikit jumlah meikrobia, dimana suatu saat
didapat hanya satu mikrobia pada satu tabung.
Benhards (2008) yang
mengatakan bahwa Pengenceran yang dilakukan dalam percobaan ini adalah pengenceran
desimal yaitu 10-1, 10-2, 10-3, 10-4 dan 10-5. Dan yang diplating dan diamati
adalah pengenceran 10-3, 10-4, dan 10-5. Hal ini karena diperkirakan koloni
yang terbentuk oleh Escherichia Coli berada pada jumlah yang dapat dihitung
pada pengenceran tersebut. Selain itu, perhitungan jumlah koloni akan lebih
mudah dan cepat jika pengenceran dilakukan secara
desimal.
4.5 Pemalsuan Air Susu
Air susu
merupakan air susu sapi yang tidak dikurangi ataupun tidak ditambahkan sesuatu
apapun yang diperoleh dari hasil pemerahan. Komposisi air susu adalah air,
protein, lemak, karbohidrat, vitamin, air susu dapat digunakan baik dalam
bentuk aslinya.bahan lain.
Pengertian
atau batasan mengenai kata ”susu” adalah susu hasil perahan sapi-sapi atau
hewan menyusui lainnya yang susunya dapat diminum atau dapat digunakan sebagai
bahan makanan, yang sehat, secara kontinyudan sekaligus, serta padanya tidak
dikurangi komponen-komponennya atau ditambah bahan-bahan lain.
Pembuktian Penambahan Air
Pada Pembuktian
Penambahan Air ini cara kerja (metode) nya adalah sebagai berikut: terlebih
dahulu pembuktian penambahan air kedalam susu di lakukan melalui pengukuran
berat jenis. Berat jenis normal susu bertkisar
antara 1,0280-1,0320. dengan penambahan air atau whey, maka berat jenis akan
turun.
Dan pada praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa susu
tersebut telah terjadi penambahan air. Hal ini dapat diketahui oleh berat jenis
susu tersebut adalah 1,010. Maka hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Partodihardjo
(2003) yang berpendapat bahwa dengan penambahan air kedalam susu, maka berat
jenis, kadar lemak dan bahan kering susu akan turun, sedangkan titik beku akan
mendekati 0 ( nol ). Hal ini dipertegas oleh Muhammad, W,
(2001) yang mengatakan bahwa apabila terjadinya penambahan air pada susu
akan mengakibatkan berat jenis dan kadar lemaknya menjadi menurun sehingga
mengakibatkan kualitas susu menjadi berkurang.
Pembuktian Penambahan Santan
Hasil yang
didapat pada saat pembuktian penambahan santan secara mikroskopik adalah
terlihat butir-butir lemak nabati lebih besar dari pada lemak
susu. Hal ini sesuai dengan pendapat Mazer, R.T( 2004 ) yang
menyatakan bahwa air susu yang dihasilkan melalui suatu proses
sekretarit sejati air susu awal pemerahan mengandung lemak kadar rendah. Kadar
lemak susu tersebut mempunyai ukuran yang lebih homogen atau lebih kecil dari
lemak nabati. Dan dipertegas oleh Parrokasi, A. (2003 ) yang menyatakan santan
memiliki kandungan lemak nabati yang tinggi dimana bentuk dan ukurannya tidak
sama dengan lemak hewani jika terjadi pencampuran dari kandungan lemak
tersebut, maka kadar lemak semula akan meningkat.
Bersihkan gelas objek lalu teteskan satu tetes susu dan tutup dengan gelas
penutup lihat dengan pembesaran objektif 10X dan 45X. Tampak dibawah mikroskop
butir-butir lemak susu homogen, sedangkan butir-butir lemak nabati lebih besar
dari lemak susu.
Pembuktian Penambahan Pati
Pada
Pembuktian Penambahan Pati secara Kimia ini cara kerja (metode) nya adalah
sebagai berikut: terlebih dahulu masukkan 10 ml sample susu kedalam tabung
reaksi, tambahkan 0,5 ml asam asetat. Panaskan tabung dan kemudian sample susu disaring kedalam filtrate teteskan
4 tetes lugol. Apabila positif mengandung pati, maka warna filtrate menjadi
biru. Bila berwarna kuning artinya negative. Apabila
berwarna hijau reaksi diragukan.
Uji Penambahan Pati terlihat
dari Mikroskop
Pada
praktikum yang telah dilakukan didapat hasil pada tabung reaksi 1 dimana susu
ditambahkan pati ,asam asetat dan larutan lugol setelah dipanaskan susu berubah
warna menjadi biru sedangkan pada tabung reksi 2, susu yang tidak ditambahkan
pati tetapi ditambahkan larutan lugol warnanya menjadi.. Secara mikroskopik pun tampak butir-butir amilum yang ditandai dengan
inti yang konstan pada tabung ketiga. Maka hal tersebut sesuai dengan pendapat
Frandson (2002) yang mengatakan bahwa dalam
pemeriksaan pemalsuan susu dengan cara pembuktian penambahan pati bila positif
mengandung pati maka filtrate warna menjadi biru, kemudian bila warna kuning
berarti negatif . Dan juga sesuai dengan pendapat dari Brody (2002), yang
menyatakan bahwa dalam
pembuktian pemalsuan susu yang ditambahkan pati maka dapat duji dengan
mencapurkan larutan asam asetat, larutan lugol, dan tabung reaksi tersebut
dipanaskan.
BAB
V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh
setelah melaksanakan praktikum Produksi Ternak Perah ialah Ternak perah adalah
ternak yang secara genetic mampu menghasilkan susu melebihi kebutuhan anaknya, misalnya
sapi, kambing, kerbau dan lain-lain. Ternak perah mempunyai ciri-ciri khusus
yang berhubungan langsung dengan produksi susu. Susu didefenisikan sebagai susu
sapi yang tidak dikurangi atau ditambahi sesratu apapun yang diperoleh dari
hasil pemerahan sapi-sapi sehat secara kontinyu dan sekaligus. Susu ini
merupakan bahan pangan yang tersusun oleh zat-zat makanan dengan proporsi yang
seimbang. Penyusun utama susu adalah air, protein, lemak, karbohidrat,
mineral-mineral, dan vitamin-vitamin. Sebagai bahan pangan, susu dapat
digunakan baik dalam bentuk aslinya sebagai satu kesatuan maupun dari
bagian-bagiannya. Dalam praktikum ini dilakukan pemeriksaan mulai dari Anatomi
Alat Pencernaan Ruminansia kecil, Pemeriksaan Kesegaran Susu, Komposisi Susu,
Mikrobiologi susu dan juga Pemeriksaan Pemalsuan Susu. Pentingnya dilakukan
praktikum tersebut, agar kita mengetahui bagaimana susu yang baik dan juga ilmu
yang diperoleh dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari.
5.2 Saran
Pada saat praktikum berlangsung
untuk para praktikan agar dapat lebih meningkatkan disiplin lagi sehingga dalam
praktikum kita akan cepat selesai dan menggunakan peralatan laboratorium dengan
hati-hati dan teliti sehingga dapat digunakan lagi untuk masa yang akan
datang dan juga sebaiknya, praktikan harus memperhatikan saat asdos
menerangkan agar mudah memahami apa yang disampaikan. Praktikan harus menjaga
ketenangan pada saat praktikum berlangsung, agar suasana praktikum jadi nyaman.
Semoga laporan ini bermanfaat untuk semua.